Anak-anak foto bersama ibu-ibu Kemensetneg/ Foto-foto: Nopi TNOLSEBAGAI tempat belajar informal, Rumah Pintar yang berada di Komplek Sekretariat Negara di Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Tangerang yang dikelola Dharma Wanita Persatuan Kementrian Sekretariat Negara terbilang cukup lengkap. Pasalnya, mereka memberikan pelajaran tiga bahasa kepada anak didiknya. Dan, semuanya itu diberikan secara cuma-cuma alias gratis.
Mulai dari Bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang. Anak-anak diberi pelajaran oleh dua orang tutor, Meli Yulita dan Febri Sunantri. Mereka berdua dibantu Sekretaris Siti Sundari.
"Saya mengajar Bahasa Inggris, Febri Bahasa Jepang karena dia lulusan itu," ujar Meli kepada TNOL di Rumah Pintar Komplek Setneg, Senin (13/2). Mereka berdua memberikan pelajaran secara bergantian.
Pelajarannya masih bersifat dasar, karena anak-anak masih berusia 1-6 tahun. Agar anak-anak mudah mempelajari bahasa tersebut, mereka melengkapinya dengan gambar.
Febri Sunantidan Meli Yulita, pengajar di rumah pintar kompleks Kemensetneg"Saya mengajarkan dasar-dasar Bahasa Jepang seperti mengucapkan selamat pagi, siang, sore dan malam. Kalau tentang lainnya, kita lengkapi dengan gambar dan bahasa Indonesianya juga," ucap Febri.
Untuk mengetahui anak-anak bisa mengucapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang mereka kerap menyuruh mereka maju ke depan. Selain bahasa, mereka juga mengajarkan Iqro.
Iqro diperuntukkan bagi anak-anak yang beragama Islam. Sementara bagi yang beragama lain tidak mempelajarinya. Dalam sehari, mereka mengajar dua kali, siang dan sore dari Senin hingga Rabu. Senin pagi jadwal pelajaran Berhitung dan Membaca. Selasa pagi, Bahasa Inggris. Rabu pagi, Bahasa Jepang dan Iqro. Sedangkan Senin siang komputer dan Bahasa Indonesia.
Anak-anak terlihat ceriaSelasa siang Bahasa Inggris, Rabu siang Bahasa Jepang dan Matematika. Jadwal terpampang tidak jauh dari pintu masuk dan dihiasi dengan berbagai gambar menarik. Dari kupu-kupu, ikan, kura-kura, jeruk, apel dan semangka. Kelas pagi lebih banyak anak-anak yang belum menempuh pendidikan di sekolah sehingga mereka selalu ditemani orangtua.
Sementara kelas siang, dominan anak-anak sekolah. Mereka mendapat pelajaran komputer Microsoft Office, Excel dan Power Point. Anak-anak tidak hanya berasal dari dalam kompleks Setneg saja, melainkan juga dari beberapa daerah di luar Setneg.
"Anak-anak di sini lebih banyak dari luar kompleks," ucap Meli. Selain belajar, mereka juga bisa membaca buku-buku yang tersedia seperti kamus, ensiklopedia dan buku cerita.
Rumah Pintar di Kompleks Setneg sendiri berada tak jauh di Gedung Serba Guna Komplek Setneg. Tadinya hanya sebuah gudang yang tidak terpakai, kemudian dialih fungsikan menjadi tempat belajar. Hasilnya sangat bagus dan menarik. Lantainya keramik dengan warna seperti kayu.
Ima Basarah Garibadli dan Tjoetjoe LoedyDindingnya bergambar aneka ragam, lalu ada balok-balok kayu berisikan buku dan terpasang nama-nama anak didik yang nantinya para tutor akan memberikan bintang. Pemberian bintang berdasarkan keberanian anak maju ke depan, menjaga kebersihan dan tidak berkelahi.
Bagi yang memiliki bintang banyak akan mendapatkan hadiah menarik. "Pemenangnya ada tiga perempuan dan ada tiga pria," jelas Febri.
Menurut Meli, Rumah Pintar berdiri sejak April 2009 lalu. Dahulu Rumah Pintar belajar dari Senin-Jumat dan memiliki 11 tutor. Tutor direkrut dari Karang Taruna. Sayang, beberapa orang telah mengundurkan diri, sehingga tinggal menyisakan Meli dan Febri.
Keduanya bahu membahu memberi pendidikan kepada anak-anak. "Kami bertahan, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengajar," tutur Meli.
Tempat meletakkan bintangDengan dua orang tutor, pelajaran berlangsung Senin sampai Rabu. Kamis dan Jumat dipakai sebagai Sentra Kriya. Pimpinan Rumah Pintar Kompleks Setneg, Tjoetjoe Loedy menuturkan, di Sentra Kriya ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kementrian Sekretariat Negara yang tinggal di sana memberi pelatihan menjahit kepada ibu-ibu yang berada di sekitar kompleks.
"Kursus jahitnya bersertifikat," terang Tjoetjoe. Dari Sentra Kriya ini pula, terkenal rempeyek buatan mereka. Sampai-sampai istri Hassan Wirajuda selalu mencari rempeyek dari Sentra Kriya Kompleks Setneg saat bazar berlangsung. (Sbh)
Piano bantuan dari SIKIB
Comments
RSS feed for comments to this post