Momen hari raya keagamaan, harusnya juga menjadi momen atas wujud toleransi antar umat beragama....
Pintu Gerbang Riau Junction. (Foto: Rudi Rachmat)Natal selalu ditunggu-tunggu oleh para penganut agama Kristiani setiap tahunnya untuk bersama merayakannya. Natal diperingati sebagai hari lahirnya Isa Almasih dari rahim Bunda Maria di sebuah palungan di kota Bethlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Di malam saat kelahiran tersebut, sebuah bintang tampak bersinar terang-benderang di langit dan memandu orang majus untuk menyambut kelahiran itu dengan membawa persembahan emas, kemenyan dan mur untuk bayi Yesus Kristus. Dipercayanya bayi inilah yang kelak akan tumbuh menjadi Juru Selamat atau Mesias bagi umat manusia.
Pohon Natal di Gereja Jawa Bandung. (Foto: Rudi Rachmat)Perayaan Natal identik dengan kebiasaan memasang pohon natal sebagai dekorasi di dalam rumah, di mana tradisi ini dimulai sejak abad ke-16, di Jerman. Pemasangan pohon natal umumnya dari pohon cemara atau mengadaptasi bentuk pohon cemara. Saat penduduk Jerman menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Amerika, mereka pun kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen.
Pohon Natal di Sudut Hotel Santika. (Foto: Rudi Rachmat)Kini, pohon-pohon natal beserta pernak-perniknya itu, juga semarak menghiasi pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel, serta gereja-geraja di Bandung, dalam rangka menyambut perayaan hari lahir Yesus Kristus. Program potongan harga pada pusat-pusat perbelanjaan, dan kehadiran Sinterklas pada hari H, mungkin sudah biasa. Adalah akan terasa tidak biasa, manakala juga terdapat tokoh lain yang menyemarakkannya, seperti kehadiran Alvin and The Chipmunks, di Bandung Indah Plaza, di Jalan Merdeka No 56. Kehadiran Alvin dan teman-temannya di sini, juga bisa dikatakan untuk menyambut film terbaru mereka Alvin and The Chipmunks: Chipwrecked yang siap diputar di bioskop-bioskop Indonesia.
Rumah Sinterkelas di Bandung Indah Plaza. (Foto: Rudi Rachmat)Yang berbeda lagi adalah, suasana menyambut Natal di Bandung Super Mall. Karena mulai 15 Desember 2011 yang lalu, warga Bandung dapat merasakan suasana musim salju di wahana Snow World International, dengan arena salju seluas 1.200 meter persegi, yang hadir di Festival Citylink, di Jalan Peta No 241, Bandung. Di wahana yang hadir dengan bertemakan ‘Bandung Bersalju’ ini, pengunjung akan merasakan sensasi hujan salju serta melihat salju berterbangan. Selain itu, pengunjung dapat menikmati pemandangan berbagai bentuk pahatan es, dan bergembira ria bermain di arena seluncur di atas es.
Pahatan es yang bisa dinikmati adalah berbentuk Gedung Sate, naga, ikan, boneka salju, burung garuda, dan banyak lagi bentuk lainnya. Sedangkan seluncur dilakukan di atas es raksasa yang panjangnya 17 meter. Karenanya di Snow World, pengunjung benar-benar akan dibuat merasa seperti sedang berada di Kutub Utara, dengan kedinginan salju yang mencapai suhu minus 15 derajat Celsius!
Suasana Menyambut Natal di Ciwalk. (Foto: Rudi Rachmat)Untuk menyambut Natal, Hotel Santika Bandung, di Jalan Sumatera No 52 – 54, akan mengadakan candle light dinner pagi para tetamu, yang menginap maupun pengunjung pas di malam perayaan Natal. Hal senada juga dilakukan oleh hotel-hotel papan atas lainnya. Sedang di gereja-geraja di Bandung, suasana Natal memang telah terasa sejak awal, yakni pada akhir November, seperti di Gereja Kristen Jawa, di Jalan Merdeka No 28, yang mengadakan ibadah bertemakan ‘Menyambut Kedatangan Tuhan dengan Iman’ pada 27 November 2011, begitu pula pada ibadah-ibadah selanjutnya, hingga 1 Januari 2012.
Festival Citylink di Bandung Super Mall. (Foto: Rudi Rachmat)Sayang suasana Natal tidak begitu terasa di kantor-kantor pemerintahan yang menyangkut pelayanan publik. Sebenarnya suasana ini dapat diciptakan dengan menempatkan dekorasi pohon Natal, ataupun spanduk-spanduk bertuliskan penyambutan Natal, dan pentingnya toleransi beribadah antar umat beragama. Seperti di kantor Pemerintahan Kota Bandung, mungkin akan terasa indah dan menarik, andaikata patung badak bercula satu yang berada di halamannya dipakaikan topi sinterklas, yang pastinya hanya dalam rangka menyambut Natal. Hal ini tentu akan menjadi salah satu wujud toleransi tadi.
Yang pasti, pohon natal bukanlah suatu keharusan di gereja maupun di rumah, karena ini hanyalah sebuah simbol supaya kehidupan rohani umat Kristiani senantiasa bertumbuh, dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain, evergreen. Pohon natal (cemara) juga melambangkan keabadian, mengingat di musim salju pada saat umumnya hampir semua pohon dedaunannya berguguran, kecuali pohon cemara yang senantiasa hijau daunnya.