
Buat sebagian orang, “karakter berani” Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) memang kerap bergerak di luar dugaan. Siapa kira di balik kelemah-lembutannya ada jiwa ”pemberontak” yang meledak-ledak?
TNOL beruntung sempat menjumpainya setelah ia tak lagi menjadi pejabat, dan secara eksklusif mendengar ceritanya dari sudut pandang berbeda – entah tentang pengalamannya selama menjadi menteri kesehatan, suka-dukanya sebagai ibu dan isteri yang ditinggal mati suami justru di saat ia sedang ”diserang” kiri-kanan, dan, tentu, mengenai berbagai kegiatannya sekarang.
Istimewa
Rumahnya di kawasan Kali Malang yang asri tampak lengang. ”Anak-anak dan cucu-cucu sedang berlibur ke luar kota,” ujarnya sambil menyeruput teh hangat dalam cangkir. Minggu pagi itu mendung. Namun, Siti Fadilah tampak segar dengan setelan kebaya modern biru muda dan rambut yang disasak sederhana.
Apa kesibukan Anda sekarang?
Saya kan tadinya staf pengajar Fakultas Kedokteran UI, kemudian menjadi dokter spesialis penyakit jantung RS Jantung Harapan Kita. Tentu saja itu sekarang saya teruskan, selain juga melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang muncul setelah saya menjadi menteri kesehatan.
Ada yang berbeda setelah tidak lagi menjadi pejabat?
IstimewaTernyata rasanya lebih tenang, ya, lebih merdeka; walaupun ada kekhawatiran akan ada hal-hal yang sangat ideologis yang saya bangun atau saya bina saat saya masih menjadi menkes; seperti apakah hal itu masih bisa berlanjut? Misalkan keberpihakan kami terhadap masyarakat yang sangat miskin, apakah masih bisa lanjut?
Ada perasaan “post power syndrome”?
Kebetulan sampai saat ini belum, karena masih banyak orang-orang yang butuh pertolong saya. Tapi, kalau orang-orang itu hilang, jangan-jangan saya merasakan juga kali ya (tertawa). Tapi, yang baru terasa sangat nyata adalah saya baru saja kehilangan suami. Pada saat saya bekerja sebagai menteri kesehatan, suami pun saya singkirkan, semuanya saya singkirkan, karena saya bekerja untuk rakyat. Dan, semenjak tidak menjadi menteri, ternyata ingatan saya terhadap almarhum itu semakin menjadi nyata. Maksudnya, aduuuhhh… kalau seperti begini ada dia, saya kan bisa ngobrol, karena waktu saya sekarang lebih banyak.
***
Sang suami, Ir. Muhammad Supari, meninggal dunia setelah divonis menderita leukemia, kanker darah, dan menjalani perawatan justru di saat Siti Fadilah harus menjalankan tugas sebagai menteri dengan berbagai beban pekerjaan dan masalah.
Kisah duka itu, kemudian ia tuangkan dalam buku setebal 249 halaman, yang diberi judul Tatkala Leukemia Meretas Cinta.
Ini adalah pengabdian dan kegalauan saya yang saya catat antara bulan Oktober 2008 sampai Maret 2009," ujarnya dalam acara peluncuran buku tersebut pada 6 November silam, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-60.
Istimewa
Menulis buku memang menjadi salah satu kebisaan Siti Fadilah. Sebelumnya ia sudah pula meluncurkan beberapa buku lainnya. Dan, buku yang paling menghebohkan adalah Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung, yang juga ditranslit ke bahasa Inggeris, berjudul It’s Time for the World to Change.
Dalam buku itu, Fadilah berhasil menguak konspirasi Amerika Serikat dan badan kesehatan dunia dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, avian influenza (H5N1).
Blak-blakan ia mengungkap: Setelah virus menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin, lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari situ, ia menyimpulkan: “Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita.”
Situs berita Australia, The Age, saat mengutip buku tersebut mengabarkan, Pemerintah AS dan World Health Organization (WHO) berkonspirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1, atau flu burung, dengan memproduksi senjata biologi.
IstimewaKontan, WHO dan
“Kegerahan itu tidak saya tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menindas kita; lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau mereka tidak ada, kita sudah kaya,” tegas Fadilah.
Buku tipis ini hanya dicetak 2.000 eksemplar untuk edisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Jumlah kecil yang berdampak global.
Demikian hebatnya, sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Fadillah menarik buku tersebut dari peredaran. Malah, Pemerintah AS, konon, menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.
Namun, dengan gayanya yang ”innocent”, Fadilah berkelit, “Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual di toko. Yang bahasa Inggeris sudah habis terjual.”
Fadilah kemudian ”dibaptis” sebagai orang yang sudah membuat sejarah dunia. Gara-gara protesnya, AS dan WHO mengubah kebijakan fundamental mereka yang telah dipakai selama 50 tahun.
Istimewa
Maka, tak tanggung-tanggung, Majalah The Economist, London, langsung menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung. “Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi.”
Dalam majalah itu, diceritakan, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung tahun 2005. Ia kelabakan. Obat anti flu harus ada. Namun, aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO – melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong – memerintahkan Fadilah untuk menyerahkan sampel spesimen.
IstimewaMulanya perintah itu diikuti Fadilah. Namun, pada saat bersamaan, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Lalu, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
Fadilah merasa ada yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.
Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dan, Fadilah segera menemukan fakta: pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjual ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.
Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) dari WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu jadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.
Istimewa
Kegeraman Fadilah kian memuncak ketika menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico. Di sini, dari 15 grup peneliti, hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.
Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah dahulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu, pertanyaannya: Untuk apa data itu? Untuk vaksinkah, atau untuk senjata kimia?
Fadilah tak tinggal diam. Ia minta WHO membuka data tersebut. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Dan, ia berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data tadi. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, ramai-ramai memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa itu sebagai revolusi bagi transparansi.
Tidak berhenti di situ, Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang, hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.
IstimewaSelesai? Belum, ternyata. Fadilah masih terus melawan, dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.
Belakangan, perlawanannya tidak sia-sia. Meski dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa, Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO akhirnya mengamini segala tuntutan Fadilah: sharing virus disetujui, dan GISN dihapuskan.
Kendati dipuji banyak pihak, toh gara-gara terobosan-terobosan itu, Siti Fadilah, konon, tak lagi ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2.
***
Kegiatan menulis buku itu bagaimana ceritanya?
Itu hobi saya sejak dulu. Nampaknya merupakan hal yang sangat menarik untuk bisa saya ceritakan kepada orang lain.
Dan, Buku It’s Time for the World to Change benar sudah masuk jilid ke-2?
Istimewa
Belum, malah saya ingin menulis buku saya yang keempat mengenai memoar saya.
Tapi, menjadi, dokter memang cita-cita Anda sejak kecil,
Tidak.
Lalu, apa yang mendorong Anda jadi dokter?
Karena saya menganggap memberi kesenangan pada orangtua merupakan ibadah yang di ridhoi oleh Allah. Sehingga, saya menurut saja waktu ayah saya mengatakan, “Saya ingin kamu menjadi dokter!”, walaupun di belakang saya menangis. Tapi, niat saya adalah mengabdi dan membahagiakan orangtua.
***
IstimewaLahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 6 November 1949, Siti Fadilah Supari awalnya berprofesi sebagai dosen dan ahli jantung. Ia menjadi staf pengajar kardiologi Universitas Indonesia. Setelah itu, selama 25 tahun, ia terdaftar sebagai ahli jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.
Bersama Muhamad Supari, Fadilah memiliki tiga anak. Gelar sarjana diraihnya dari Universitas Gajah Mada pada 1972. Tahun 1987, ia menerima gelar master (S-2) untuk penyakit jantung dan pembuluh darah dari Universitas Indonesia, sebelum akhirnya menerima gelar doktor (S-3) pada 1996.
Pada 20 Oktober 2004, Siti Fadilah dipilih Presiden SBY sebagai menteri kesehatan, karena SBY menginginkan orang yang tegas dalam memimpin Departemen Kesehatan; dan Fadilah membuktikan bahwa pilihan itu tepat.
Dan, sejak 26 Januari kemarin, Siti Fadilah Supari resmi dilantik sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2010-2014.