Ucok "AKA" HarahapUcok "AKA" HarahapTaman Ismail Marzuki, Jakarta, 10 November 1973

Penonton yang berkeringat dan berdesak-desakan di Arena Terbuka, mendadak dikejutkan oleh penampilan rocker kribo yang muncul dari atas genteng dan loncat ke panggung sambil meraungkan lagu Crazy Joe dengan garang.

Penonton mendesah. Tapi, aksi panggung belum selesai. Sesosok ”algojo” muncul membawa cemeti, lalu mencambuki si rocker dengan bengis.

Penonton menjerit tertahan. Sang algojo makin jadi, mengikat si rocker, menggantungnya, bahkan menusuk-nusuk badannya dengan benda tajam.

Penonton tercekam, mendelik ngeri. Saat itulah sang algojo menjebloskan si rocker ke dalam peti mati!

Panggung seketika hening. Penonton bengong, sesaat, sebelum bertepuk meriah sambil berjingkrak-jingkrak histeris, mengiringi peti mati berisi si rocker yang diseret sang algojo ke luar pentas.

Di belakang panggung, terjadi kepanikan. Peti mati itu tak bisa dibuka. ”Waktu itu TIM masih angker. Ucok teriak-teriak dari dalam peti, tapi semua orang mengira itu bagian dari pertunjukan. Padahal dia nggak bisa keluar beneran,” ujar Remy Sylado, budayawan yang ketika itu menjadi wartawan majalah musik Aktuil.

Yang disebut ”Ucok” oleh Remy, tak lain adalah si rocker tadi. Cuma dengan bantuan orang ”pinter”, Ucok akhirnya bisa dikeluarkan dari peti mati dalam kondisi kejang-kejang, bak orang kesurupan. Remy pula yang, konon, mengambil seember air dan menyiramkan ke wajah Ucok hingga membuatnya tersadar....

 

Dicekal dan Digilai

AKA: Do What You LikeAKA: Do What You LikeAndalas Datoe Oloan Harahap adalah nama aslinya. Peranakan Sumatera Utara, tapi besar dan ”berkarir” di Surabaya. Namun, layaknya orang Batak, enak saja ia kemudian dipanggil “Ucok”. Dan, seenak itu pula ia memberi nama grup band-nya: AKA, singkatan dari ”Apotik Kali Asin”, yang diambil karena para personilnya bermarkas dan melakukan latihan di belakang apotik milik orangtua Ucok

Ketika itu 23 Mei 1967. Formasi awal AKA adalah Ucok Harahap (keyboard/lead vocal), Syech Abidin (drums/vocal), Soenatha Tanjung (lead guitar/vocal), dan Peter Wass (bass). Tak lama Peter Wass cabut, digantikan Lexy Rumagit – yang beberapa tahun kemudian juga ”pensiun” setelah cedera sewaktu granat yang disiapkan untuk aksi panggung grup rock Ogle Eyes di Lumajang tiba-tiba meledak dan melukainya. Haiya!

Posisi Lexy akhirnya diisi Arthur Kaunang, bassist/vocal yang juga gape bermain piano klasik dan pernah bergabung dengan Leo Kristi. Sejak itu, 1969, formasi AKA benar-benar solid sebagai grup rock yang didukung para musisi handal.

AKA kemudian mengklaim diri sebagai grup band beraliran underground. Menurut mereka, musik underground ala AKA adalah musik yang diciptakan oleh musisi yang luarbiasa dengan meleburkan segala macam aliran musik. Jadilah mereka di panggung membawakan lagu-lagu hingar-bingar milik Led Zeppelin, GrandFunk RailRoad, Deep Purple dan Jimmie Hendrix – yang memang sedang digandrungi anak muda di tanah air kala itu.

Tahun-tahun awal eksistensi AKA adalah sebuah masa penggodokan yang membentuk karakter mereka bermusik. Panggung-panggung ”neraka” di Jawa Timur pada akhir ’60 dan awal ’70-an, menempa AKA menjadi para rocker berkualitas yang benar-benar berkarakter. Ditambah aksi teatrikal sinting khas Ucok – menyanyi sambil bergelantungan terbalik di ketinggian 10 meter, jumpalitan seperti atlet senam, sampai menyeret-nyeret peti mati – tak pelak, bikin nama AKA langsung melambung.

Ucok "AKA" HarahapUcok "AKA" HarahapSebagai maskot grup, Ucok memang terus mempertontonkan aksi dan suasana tak lazim di atas panggung. Selalu, dalam setiap show, ia memilih tema berganti-ganti: seks, sadisme, dan horor. Saat menyanyikan Sex Machine milik James Brown, ia dengan enak buka baju, tinggal celana dalam warna merah, lalu memainkan adegan orang bersenggama....

Aksi panggung Ucok memang paling gampang memancing histeria massa. Namun, pada saat yang sama, modus operandi seperti itu juga membuat pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh agama gerah. Mereka bersepakat mencekal Ucok dan AKA dari setiap panggung rock di Indonesia.

Maka, buat sesaat, aksi Ucok hilang di dalam negeri. Namun, rezeki tak ke mana. Sebuah restoran di Singapura, yang pernah kesengsem ketika melihat AKA show di sana beberapa waktu silam, memutuskan mengontrak mereka.

Oleh pemilik restoran, AKA dipaksa membawakan lagu-lagu berirama rock and blues, soul, dan rock psychedelic yang tak pernah mereka mainkan. Mereka juga harus memakai musik tiup untuk mengiringi tamu-tamu berdansa.

Nah, karena tak ada personil musik tiup, akhirnya sang manajer restoran mereka paksa untuk latihan dan ikut bermain! Tapi, gara-gara penampilan AKA-lah, konon, pengunjung restoran itu terus meningkat.


Laku Satu Juta Keping

AKA: Crazy JoeAKA: Crazy JoeKenyang menyanyikan lagu-lagu orang lain, tahun 1971, AKA akhirnya masuk dapur rekaman. Album pertama mereka berisikan lima lagu berlirik Indonesia dan tiga lagu berteks Inggris: I've Gotta Work It Out, Glenmore, dan Do What You Like yang sekaligus dijadikan judul album.

Meski corak musik di album tersebut belum seratus persen underground, namun sambutan di tanah air cukup hangat. Pasalnya jelas, saat itu belum banyak grup rock dalam negeri yang bikin karya sendiri. Tak seperti di jalur pop, yang kala itu sudah dimeriahkan Koes Plus, Panbers, atau The Mercys.

Sukses di album pertama, AKA pun kian bersemangat merilis album kedua, Reflections (1971); sebelum akhirnya hijrah ke Singapura. Di negeri tetangga inilah mereka meluncurkan album Crazy Joe (1972), yang dianggap fenomenal karena sempat bertengger di anak tangga pertama chart radio Australia yang saat itu dikawal Ebet Kadarusman, alias Kang Ebet.

Kesuksesan tersebut diikuti single ”Badai Bulan Desember”, yang laku sampai satu juta keping. Angka fantastis yang ketika itu belum pernah diraih grup musik nasional mana pun, dan menjadikan ”Badai Bulan Desember” sebagai salah satu lagu rock legendaris di Indonesia.

Kendati tak sedahsyat Crazy Joe, di tahun-tahun berikutnya AKA terus mencetak album. Sejak Sky Rider (1973), Cruel Side of Suez War (1974), Shake Me (1975), Mr Bulldog (1976), Pucukku Mati (1977), hingga berbagai album ”nyeleneh” bernuansa Pop Melayu, Pop Jawa, sampai Kasidahan.


Perempuan, Bukan ”Drugs”

Istimewa: Gaya Panggung UcokIstimewa: Gaya Panggung UcokKemudian cerita usang tentang perpecahan sebuah grup band terkenal, terjadi pula pada AKA. Bukan drugs penyebabnya, tapi wanita. (”Setiap performance saya selalu gila-gilaan, butuh tenaga tinggi buat lompat-lompat, jungkir balik sana-sini, dan digantung gantung. Kalau saya pakai drugs, bagaimana saya bisa kayak gitu?” bantah Ucok tentang tuduhan rocker seperti dirinya identik dengan pemadat).

Ucok, sang icon, memang sudah dari awal jadi magnet bagi wanita mana pun, entah fans maupun sesama artis. Mereka datang, dan menyusup dalam pada kehidupan pribadi Ucok.

Gara-gara asyik-masyuk dengan perempuan, Ucok mulai tak disiplin dalam latihan, juga pertunjukan. Rekan-rekannya mulai bosan menegur. AKA pun akhirnya terbiasa latihan tanpa vokalis.

Bukannya bangun dan tersadar, Ucok justru membuat proyek rekaman sendiri di Jakarta dengan grup barunya: Love Sweet Gentle; yang beranggotakan Benny Mustafa (drum), Cipto (saxophone), Hengky (lead guitar), dan Eddy (bass).

Sibuk dengan ”mainannya” yang lain, Ucok alpa mengamati jika nama AKA mulai terpinggirkan dari hingar-bingar musik rock di tanah air. Apa pun, AKA terlanjur identik dengan Ucok Harahap, sang vokalis, yang oleh fans fanatiknya di Surabaya digelari sebagai ”Presiden Anak Muda Kota Buaya”.

AKA: Sky RiderAKA: Sky RiderNamun, entah kenapa, pada 7 Agustus 1975, Ucok malah meresmikan grup barunya yang lain di Jakarta – dengan nama Ucok and His Gangs (Uhisga), yang bergerak dalam pertunjukan musik, model, dan tari. Bagi orang-orang yang mengenalnya, Ucok memang telah ”berubah”. Ia lebih glamour dan semakin sibuk dengan fashion show, nyanyi, juga tari.

Maka, tanpa ampun, akhir Desember 1975, Sunatha, Arthur, dan Syech Abidin mendepak Ucok dari AKA; lalu mengganti nama AKA dengan SAS, yang merupakan singkatan dari nama-nama ketiga personil tersebut.

Belakangan fakta bicara. Dalam pertunjukan perdana di Taman Ria Monas Jakarta, SAS mendapat sambutan antusias dari 15 ribu penonton. Sementara Ucok justru terseok-seok mengangkat pamor Uhisga, sebelum akhirnya ”menyerah”.


”Melacur” ke Film

AKA: Puber Kedua“Saya jatuh cinta dengan seorang wanita, dan kemudian lari bersamanya. Sialnya, dia anak pejabat!” ungkap Ucok, suatu kali, saat bertutur tentang kisah asmaranya, yang sekaligus jadi penyebab amburadulnya AKA.

”Wanita” yang ia maksud adalah Farida, perempuan cantik jago karate yang juga menjadi fans fanatiknya. Mabuk oleh pesona Farida, menjadikan Ucok yang telah beristri dan beranak banyak, kawin lari ke Jakarta.

Maka, kisah hidup Ucok-Farida selanjutnya bak drama romantis pasangan kekasih bohemian rock n roll. Mereka berkeliaran di lorong-lorong gang sempit, tidur di bekas gudang, sampai menyewa kamar hotel kelas kambing di daerah Senen.

Saat itulah Ali Shahab, sutradara film, menemukan Ucok dan Farida yang sedang hamil tua duduk menggelandang di Stasiun Gambir, lalu mengajak mereka main film. “Waktu itu saya butuh Rp 600 ribu buat hidup dan buat biaya tinggal,” Ucok beralasan.

Dan, tahun 1977, film pertamanya, Ciuman Beracun, beredar, disutradarai Ratno Timoer. Habis itu, Ucok rajin mondar-mandir di layar lebar, dan membintangi sejumlah film lain. Namun, perannya selalu antagonis, dan kebanyakan bermain di film kelas dua dengan judul-judul ”seram”: Manusia Purba, Darah Muda, Lonceng Maut, Gara-ara Gila Buntut, Tante Sun, hingga Ratapan Anak Tiri II.

“Saya selalu main jadi pemabuk, pembunuh, pemerkosa gara gara saya main musik rock; sementara Rhoma dapat yang baik-baik,” gerutunya tentang film Darah Muda yang memasang Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai ”jagoan” dan Ucok, sang Rocker, sebagai ”penjahat”. Pada titik inilah Ucok mengaku telah ”melacurkan diri” sebagai seorang pekerja film komersial, dan nyaris merasa naluri rockernya tergadaikan.

Beruntung kemudian ia dipasangkan dengan Achmad Albar dalam film Duo Kribo, yang dirilis pada 1978. Banyak orang beranggapan film ini cukup fenomenal, karena selain memperoleh beberapa penghargaan, juga menjadi petanda berakhirnya ”perseteruan dan persaingan” dua rocker papan atas: Ucok Harahap dan Achmad Albar.

Apalagi Duo Kribo belakangan dibakukan sebagai duet-vokalis, dan merilis album rekaman. Lagu Neraka Jahanam dan Panggung Sandiwara – yang diaransemen amat cantik oleh Ian Antono (gitaris God Bless) – seketika menyentak publik. Nama Ucok, bersama Albar, kembali terangkat dan dikenang sebagai sosok rocker yang fenomenal.


Tinggalkan Jejak Panjang

Duo KriboDuo Kribo, boleh dibilang, menjadi ujung dari kesuluruhan puncak karir Ucok Harahap. Usai itu, memasuki era 1980-an ke atas, pamornya terus meredup. Memang, sempat juga ia membentuk Warrock Power Band hingga Coksvanska (yang mencampurkan unsur rock dan jazz), namun kandas meraih popularitas.

Keinginan para personil AKA untuk sekadar bernostalgia dalam dunia rekaman dengan melahirkan album Puber Kedua (1997) – yang menyelipkan beberapa nomor hits mereka semasa di AKA – pun gagal meraih simpati publik.

Alhasil, Ucok harus menghadapi berbagai kenyataan hidup yang tak selamanya manis. Kawin-cerai dengan isteri-isterinya (tercatat Ucok menikah sembilan kali, memiliki 8 anak dan 14 cucu), serta berpindah-pindah pekerjaan; mulai dari penata ilustrasi musik untuk berbagai film, pengurus PARFI, membuka usaha batako, bahkan menjadi paranormal!

Profesi terakhir itu boleh dibilang sebagai ”satir” untuk mengimbangi rekan-rekannya di AKA yang juga telah alih profesi: Arthur Kaunang bermain musik untuk Tuhan, Sonata Tandjung jadi pendeta, dan Sjech Abidin menjadi ustadz. Jika kemudian Ucok memilih jadi paranormal, alasannya sederhana: untuk menjadi ustadz atau pendeta perlu sekolah, tapi paranormal tidak; padahal semuanya sama-sama memiliki niat untuk menolong orang.

Dan, awal Desember silam, Kamis (3/12) pagi, menjadi hari akhir Ucok AKA Harahap mengarungi hidupnya yang penuh warna. Musisi rock legendaris itu meninggal dunia, dalam usia 66 tahun di Surabaya, akibat kanker paru-paru yang ia derita sejak September 2009.

Namun, semua orang tahu, ia pergi bukan dengan nama kosong. Tercatat 17 album bersama AKA, tiga album bersama Duo Kribo, serta 10 album solo sempat ia lahirkan dan menjadi warisan berharga yang menandai jejak langkahnya. Bahkan, para pecinta bola di kota Malang akan selalu mengenangnya setiap kali Mars Arema yang ia ciptakan dikumandangkan.

“Kalau boleh memilih, saya ingin sukses dalam keluarga dibanding dalam musik. Cuma, Tuhan punya rencana lain, saya terus-terusan dibelokin. Jadinya saya malahan sukses di musik, bukan di keluarga,” ujarnya, suatu kali.


Yudhi, Ketua TCI (Terrano Club Indonesia)

“Saya merasa kehilangan dengan meninggalnya Ucok. Menurut saya. Ucok adalah orang yang sangat yakin dengan apa yang ia lakukan dan ia perbuat. Lihat saja dari penampilannya zaman dulu yang sangat ekstrem.

“Kalau saya sih secara pribadi melihat penampilannya risi, tapi dia menggunakan atribut-atributnya dengan ejoy. Dari dulu sampai sekarang penampilannya tidak berubah. Kalau sedang manggung nggak bisa diam, lari-lari dari ujung ke ujung nyeret-nyeret mikrofon. Tapi, itulah ciri khasnya.”

Michael Tambayong, Anggota MBW 202 (Mercedes BenzW202 Club)

“Konsistensi dia di dunia musik, khususnya rock, saya acungi jempol. Saya pikir, musik dia begitu idealis, apa adanya, dan sangat berbeda dengan apa yang sedang trend pada saat itu.

“Kalau Ucok manggung dengan kaki diikat ke atas dan kepalanya di bawah, menurut saya benar-benar edan!”

Laporan: Novri, dan dari berbagai sumber