Profil

dr. Ilhandi Oetama: ”Banyak Pria Sembarangan Membesarkan Penis!”

User Rating: / 2
PoorBest 

Written by Djoned/Yayek

Friday, 20 November 2009

There are no translations available.

Yayek/tnolYayek/tnolKarena demikian ingin memiliki anak laki-laki, pasangan Husni dan Hasni (sebut saja begitu) tega-teganya mendidik Kasni, puteri mereka (juga bukan nama sebenarnya), bak ”anak laki-laki” sungguhan. Tak boleh main boneka, hanya mobil-mobilan; dilarang mengenakan rok, dan melulu celana pendek.

Memasuki usia 20, Kasni ”hilang kendali”. Ia bingung: laki-laki atau perempuankah dirinya?

Dalam kegamangan itu, ia menemui dr. Ilhandi Oetama. ”Tapi, saya merujuknya lebih dulu ke psikiater, untuk dilihat keadaan jiwa dan mentalnya secara menyeluruh,” cerita dr Ilhandi, atau akrab dipanggil Andi.

Setelah berkonsultasi dengan sang psikiater, dipastikan, Kasni ternyata lebih senang menjadi laki-laki. Maka, Andi pun turun tangan. ”Saya memberi suntikan hormon laki-laki yang lebih banyak, sehingga sifat kelaki-lakiannya semakin tampak. Lalu, bekerjasama dengan bagian bedah plastik, kita beri dia penis buatan.”

Dan, simsalabim, Kasni pun berubah menjadi Kasno! Ha-ha.

 

Dokter Teladan

Kisah Kasni, atau Kasno, memang benar adanya. Juga dr Ilhandi Oetama, alias Andi, tentu.

Setamat dari SMA 3 Jakarta, tahun 1983, Andi melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, dan lulus 1991. Lalu ia melewati masa bakti di Kecamatan Belakang Padang, Kabupaten Kepulauan Riau sebagai dokter puskesmas sampai 1995, dilanjutkan mengambil spesialisasi bedah urologi di FKUI-RSCM (2001).

Lepas itu, sejak 2002, ia bekerja sebagai staf bagian bedah Rumah Sakit Umum Tangerang, dan menjadi staf pengajar luar biasa FKUI-RSCM yang ditempatkan dalam jejaring RSCM, antara lain: RS Fatmawati, RS Persahabatan, juga RSU Tangerang.

Pada saat yang sama, mantan “Dokter Teladan se-Indonesia 1994” ini juga bekerja di beberapa rumah sakit swasta; seperti Usada Insani, Mayapada, dan Global Medika

Pada 2004, Andi sempat belajar di Phuney, kemudian di Mumbai (2005), keduanya di India, untuk mendalami endorologi – ilmu yang mempelajari pengerjaan operasi atau bedah minimalitatif dengan menggunakan lensa atau scope.

“Saat ini operasi bedah terbagi dua jenis. Pertama, bedah terbuka atau open surgery. Yang kedua, operasi tidak terbuka dengan dukungan endoscopy surgery, di mana operasi dibantu lensa atau kamera, dan banyak dilakukan untuk operasi batu ginjal atau batu kandung kemih,” jelas Andi.

 

Tertarik pada Urologi

Yayek/tnolYayek/tnolBicara soal operasi, bedah, atau penyakit dalam lainnya dengan ayah beranak tiga ini, memang bisa seenak dan seleluasa kita mengobrolkan makanan bersama seorang pecinta kuliner. Ia bisa fasih menjelaskan dengan bahasa sederhana yang langsung dipahami awam. Mungkin tak ubahnya instruktur mobil yang tahu betul kapan harus berbelok, mengerem, dan menginjak pedal gas.

”Spesialisasi bedah,” katanya tanpa diminta, ”Terbagi 7 macam: bedah digestive (saluran cerna), bedah anak, bedah tulang, bedah tumor, bedah vasculer, bedah plastik, dan bedah urologi.”

Bedah urologi, disebut Andi, sebagai ilmu yang mempelajari saluran kencing pada laki-laki dan perempuan, juga saluran kelamin laki-laki.

Urologi sendiri terbagi 7 bagian: batu (ginjal dan saluran kemih ), prostat, urologi anak, endorologi, infertilitas dan impotensi (sebagai satu bagian tersendiri ), urodinamika (mengompol), dan tumor.

”Di Indonesia, pendidikan kedokteran yang bisa langsung mengambil sub spesialisasi bedah selama 5-6 tahun adalah bedah tulang (orthopedi ), bedah plastik, dan bedah urologi,” terang Andi. Sementara untuk lainnya harus lebih dulu mengambil bedah umum (5 tahun), baru kemudian spesialisasi (3 tahun). ”Jadi, mendalami Bedah Urologi bisa menghemat waktu belajar setidaknya dua tahun,” lanjutnya, tertawa.

Meskipun tak telak-telak mengakui, namun boleh jadi ketertarikan Andi pada dunia kedokteran, kemudian urologi, terilhami dari kecemerlangan prestasi kakek dan ayahnya. Keduanya, memang, orang-orang yang sudah cukup dikenal di dunia kedokteran di Indonesia.

Sang kakek, Prof. dr. Oetama (SpU), adalah spesialis urologi ternama dan salah satu staf dokter kepresidenan di era Soeharto. Sementara ayahnya, dr Ichsan Oetama, dikenal sebagai dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi.

 

”Mimpi” yang Lain

Ada keinginan Andi yang belum kesampaian: mendalami bedah urologi untuk tumor kandung kemih di negeri Mesir. Pasalnya, di Tangerang saja, pasien penderita tumor kandung kemih nyaris tak terhitung.

”Umumnya mereka bekerja di pabrik tekstil yang banyak menggunakan zat pewarna. Nah, zat pewarna yang terhirup, kemudian terbawa aliran darah, tersaring di ginjal, dan sisanya terdampar di kandung kemih. Sisa-sisa bahan kimia inilah yang ternyata mengubah perangai sel-sel hingga menimbulkan tumor,” ujarnya.

Kasus serupa sebenarnya juga kerap terjadi di Mesir, hanya penyebabnya berbeda. Di sana, konon, ada sejenis cacing di Sungai Nil yang terminum oleh warga Mesir, dan menyebabkan tumor kandung kemih, atau schistosomiasis. Tumor ini juga bisa terjadi karena penumpukan batu-batu di kandung kemih yang didiamkan terus, dan terjadi pergesekan antar batu, sehingga mengubah perangai sel.

 

Penis Silikon

IstimewaIstimewaTapi, kasus lain yang belakangan kian marak dan cukup merepotkan Andi karena tergolong sulit pengerjaannya, adalah mengurusi para pria korban suntik silikon yang ingin membesarkan penis mereka. Nah, ini cerita seru yang lain lagi.

”Sekarang ini banyak pria yang dengan sembarangan membesarkan penis mereka dengan pergi ke mantri, dan minta disuntik silikon,” ia mulai berkisah. Silikon itu, bisa dipastikan, bukan jenis silikon kosmetik, tapi silikon untuk industri. Kok, silikon industri?

Pasalnya, menurut Andi, hingga kini silikon khusus untuk membesarkan penis belum tersedia, atau mungkin memang tidak pernah ada. Hasilnya, bisa dibayangkan, usai disuntik silikon industri, si penis langsung ”jreng”, terlihat "gagah", bahkan meski sedang tidak dalam kondisi ereksi.

Tapi, jangan girang dulu. Sebab, seiring berjalannya waktu, silikon tadi perlahan-lahan akan mencair. Dan, jadilah ”Mr P” lembek dan penyok-penyok tak beraturan. Hiii....

Andi punya penjelasan medisnya, ”Silikon yang mencair biasanya akan mengalir ke wilayah yang lebih rendah, yaitu ke arah scrotum, alias buah pelir, atau ke perut bagian bawah.” Nah, kalau sudah begini, barulah si pasien mendatangi dokter spesialis urologi, termasuk Andi, dan minta dibetulkan.

IstimewaIstimewa”Mau tahu apa yang kemudian saya lakukan di meja bedah?” tantang Andi.

Batang si ”Mr P" dikelupas seluruhnya, termasuk kulit dan bagian dalamnya dikerok tuntas. Yang bikin sulit, biasanya silikon itu sudah terlanjur menempel dalam sekali, sehingga makan waktu lama untuk membersihkannya.

Langkah selanjutnya adalah memberi lapisan kulit yang baru untuk pelir yang sudah dibersihkan tadi. Caranya?

”Untuk mendapatkan lapisan kulit yang baru, cara yang paling umum adalah diambil dari jaringan kulit di sekitarnya yang terdekat, biasa disebut tandur kulit atau skin graft,” tambah Andi. Karena yang paling dekat adalah scrotum, maka jadilah batang "Mr P" yang sudah bersih itu dibenamkam di antara scrotum.

IstimewaIstimewaSelesai? ”Belum! Kedua scrotum itu harus disatukan lagi untuk beberapa lama, sampai lapisan kulit yang baru tumbuh.”

Alamak, membayangkannya saja sudah bikin ngilu! Bagaimana caranya kalau mau buang air kecil? Bagaimana juga kalau tiba-tiba tuh penis "bangun" gara-gara melihat cewek cantik?

”Makanya, jangan sembarangan main suntik silikon,” nasihat Andi, serius.

Ampun deh, Pak Dokter, ampun.... Lagian, apa yang sudah dikasih dari Sono – mau kecil-panjang kek, gede-gemuk kek – pasti itulah yang terbaik ya, Dok, ya? Jadi, para penis silikon-mania, bertobatlah!

 


Yayek/tnolYayek/tnol

Nama lengkap : dr. Ilhandi Oetama

Panggilan : Andi

Status : Menikah, anak 3

Tempat/tgl lahir : Jakarta, 9 Mei 1963

Pendidikan :

  • SD Perguruan Cikini, Jakarta
  • SMP Perguruan Cikini, Jakarta
  • SMA Negeri 3, Jakarta
  • Fakulkas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta
  • Program Spesialisasi FKUI-RSCM

Penghargaan : Dokter Teladan se-Indonesia, tahun 1994

 

Catatan Redaksi:

Anda punya masalah seputar urologi – seperti disfungsi ereksi, saluran kencing mampet, impotensi, dan sejenisnya? Silakan ikuti Rubrik Consultation bersama dr. Ilhandi Oetama, atau kirimkan email Anda ke This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Nama dan status Anda menjadi rahasia Redaksi.

 

Kesan Para Sahabat SMA:

Noviandari (Upik)

”Surprise banget deh liat Andi bisa jadi dokter dengan reputasinya yang seperti sekarang. Masalahnya, waktu SMA, dia itu males banget belajar. Untuk nyatet pelajaran aja males.

”Jadi, waktu dia mau masuk Kedokteran, kita pada nahan napas deh! Sanggup gak tuh ngejalaninnya?

”Andi tuh orang yang santai banget. Menghadapi segala sesuatu sesantai mungkin. Jadi emang surprise banget kalau dia bisa seperti sekarang.

”Lucunya, dia paling takut kalau ngedeketin cewek. Jadi, kalau mau datengin cewek, ngajak gw dulu, hahahaha....”

Santo Wardoyo

”Suatu kali kita lagi ngumpul-ngumpul di rumah Andi di lantai 2. Kalo gak salah udah jam 11 malam. Biasa dong, cowok-cowok kalau pada ngumpul, terus iseng nonton film “begituan”.

“Pas lagi seru-serunya, tiba-tiba nyokapnya Andi naik ke atas. Wah, gawat! Pada panik semua. Buru-buru kita matiin tuh Video. Waktu itu ada sekitar 6 orang. Pada pucet semua.

”Nyokapnya Andi langsung bilang, ”Hayooo, pada nonton apaan?” Kita semua pada tengok-tengokan dengan muka kayak lambang PDI Perjuangan, terus nyahut rame-rame, ”Nggggak kok, Tante....!”

”Tapi, tuh nyokap balik bilang, ”Kamu tuuuh....!” sambil turun ke kamarnya. Kita langsung main salah-salahan deh.

”Tapi, gak lama kemudian, nyokapnya naik lagi ke atas. Wah, kita langsung panik lagi. Tapi, tau nggak, tuh nyokap bawa apaan?

“Ternyata dia bawa film begituan juga, sambil bilang, "Niiih, kalo mau nonton...."

“Ampiiuuun deh.... Akhirnya kita pada nonton sampe belekan, keluar-masuk kamar mandi. Dengkul pada lemes semua, hahaha....

“Itulah enaknya kalo punya nyokap isteri dokter! Eh, tapi sekarang temen kita yang jadi dokter kayak nyokapnya juga gak ya?“

Yayek

”Dulu rumah gw di Perdatam selalu jadi tempat ngumpul temen-temen buat belajar kelompok, khususnya anak-anak Apasko (”Anak Pasar Minggu Selalu Kompak”). Tapi, Andi jarang banget mau gabung. Dia selalu cari waktu sendiri untuk belajar bareng.

”Curangnya, kalau udah malesnya kumat, dia minta gw juga yang ngerjain tugas-tugasnya. Pernah ada pelajaran menggambar yang njelimet banget. Dia nyerah, dan minta gw bikinin. Dengan santai, besoknya dia kasih ke guru, minta nilai. Ampyunn deh....

”Yang ngenes, gw yang bercita2 jadi dokter, eh, malah dia yang jadi. Dokter hebat lagi!”

Tommy Hutomo ( Atoy ):

“Waktu SMA, Andi bukan termasuk anak yang badung. Abis, yang lebih badung dari dia banyak banget. Dia juga gak minum. Ngebir aja nggak, apalagi ngeganja. Soalnya dia emang gak suka.

“Tapi, Andi termasuk anak yang males banget belajar sebetulnya. Dia juga agak pendiam, bergaulnya terbatas sama anak-anak Apasko sekitar Pejaten aja. Kalau pulang sekolah rame2 nebeng mobil Santo, yang lain ngobrol, dia tidur....

”Sebetulnya cita-cita Andi tuh mau masuk Elektro, tapi gak keterima terus. Akhirnya dia masuk kedokteran. Itu aja ngedaftarnya udah paling akhir, udah hampir terlambat.

”Pernah dia naksir sesama temen cewek di SMA. Waktu lagi namu ke rumah, tuh cewek ditelepon sama cowok lain. Gak taunya, cowok itu pacar dari si cewek yang dia taksir. Konyolnya lagi, ternyata cowok itu masih saudaraan sama Andi! Hehehe....”


Twitter Facebook Digg Technorati