
Foto: Fitryan G. Dennis/tnolRASA tak tak percaya, kaget, dan kagum mendadak menjadi satu saat memandang wajah cantik Astrid Ayudevi Darmawan yang di era 80 hingga awal 90-an begitu akrab dengan para pembaca majalah maupun pengamat dan pencinta mode di Indonesia.
Betapa tidak, wanita bertubuh tinggi langsing dengan garis wajah Indo-Belanda itu setelah "hilang" begitu lama dari kancah dunia selebritis, justru kini duduk anggun di belakang meja kerjanya sebagai Kepala Cabang Bank DKI Syariah di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
"Kenapa? Kaget ya model seperti saya bisa jadi kepala cabang sebuah bank?" Pertanyaan itu langsung meluncur dari bibir tipisnya yang baru diberi gincu. Kemudia dia melanjutkan, "Nggak cuma Anda yang kaget dan heran, banyak orang juga bersikap seperti itu. Kayaknya aneh ya seorang model bisa memimpin bank?" ujarnya seraya tersenyum.
Foto: Fitryan G. Dennis/tnolBisa dimaklumi, umumnya model atau artis lebih memilih dunia entertaint atau fashion sebagai pilihannya saat masa kejayaannya sebagai artis menurun. Namun, agaknya, tidak bagi Astrid. Dia justru memilih dunia perbankan dan pendidikan sebagai masa depannya. Bahkan, diam-diam dia akan merintis terjun dalam kancah politik.
Kenapa tertarik dengan dunia politik? Dengan tegas dia mengatakan, "Indonesia ini belum merdeka dari bangsa asing. Liat aja masih banyak perusahaan asing yang mendominasi bidang usaha di negara kita, padahal kan sudah dijelaskan di undang-undang dasar bahwa bumi, air dan kekayaan alam Indonesia dikuasai oleh Negara Indonesia, tapi kok kenyataannya, kita bisa lihat ada bank yang pemiliknya bukan orang Indonesia, belum lagi perusahaan lainnya!" ujarnya, geram.
Foto: Fitryan G. Dennis/tnolWanita yang tak pernah berhenti menimba berbagai ilmu pengetahuan terutama perbankan ini mengaku sangat sedih melihat kondisi bangsa dan tanah air Indonesia saat ini. Makanya, dia berjanji kelak akan memimpin negara ini dengan baik. "Saya pengen jadi Wakil Presiden dan saya akan membuat Negara ini jauh lebih baik dari yang sekarang!" kata Astrid yang pernah bekerja di Citi Bank ini.
Kok, cuma wakil presiden kenapa nggak jadi presiden? Dengan tangkas dia menjawab, "Nggak apa-apa kan cuma jadi wakil presiden? Lagian di Indonesia wanita menjadi nomor satu itu agak sulit," katanya tanpa member alasan lebih jauh lagi.
Sulitnya Mensosialisasikan Syariah
Lahir di Jakarta, 26 Juli 1968 dari ayah berdarah Jawa dan ibu campuran Sunda-Belanda yang sejak usia 12 tahun mendalami model. Sempat pula menjadi perenang nasional sekitar tahun 1979-1986 dan pernah ikut lomba kelompok umur se-Asia Tenggara dan Pekan Olahraga Nasional (PON).
Jika banyak orang yang tercengang dengan karier yang digelutinya saat ini merupakan hal wajar sebab Astrid memang tak pernah mengumbar tentang siapa dirinya dibalik model kenamaan. Selain menjadi model, Astrid juga menekuni dunia pendidikan.
Foto: IstimewaUsai SMA dia melanjutkan pendidikan di Fakultas Elektro Universitas Indonesia. Usai meraih gelar S1, Astrid mengambil pasca sarjana Bisnis Internasional juga di Universitas Indonesia. "Rencananya saya akan mengambil S3 dan akan mendalami Syariah Islam," ujar Astrid mantap.
Dunia perbankan Islam menarik perhatiannya mengingat di Indonesia perbankan Islam masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Tak Cuma bagi non muslim, kaum muslim pun demikian.
"Padahal menjadi nasabah bank syariah itu sangat menguntungkan baik dalam hal deposito maupun pinjaman karena di bank konvensional setengah angsuran untuk bank, sementara di bank syariah tidak," jelas Astrid. Jadi, bagi nasabah sangat menguntungkan.
Sayangnya, masyarakat Indonesia kurang begitu bergairah saat ditawarkan menjadi nasabah bank syariah, ada rasa tak percaya dan takut, " Mereka umumnya malas mencoba sesuatu yang baru, padahal kami telah melakukan sosialisasi dan memberi informasi lebih," jelas Astrid.
Foto: Fitryan G. Dennis/tnolNamun, Astrid tak patah semangat untuk terus memperjuangkan bank syariah mengingat bank ini sebenarnya secara sistem dan teknologi tak ada beda dengan bank konvensional lainnya,
" Saya geram aja melihat masyarakat di sini terutama umat muslim, kayaknya mereka nggak percaya," ungkap Astrid," Saya berharap Bank Syariah kelak akan menjadi yang terdepan!"
Sentuhan Ladies Branch
Astrid yang pernah dikenal sebagai model papan atas antara tahun 1985-1995 ini kini telah membalut tubuhnya dengan jilbab. Hal ini telah dilakukan beberapa tahun lalu setelah dia mendalami dan memahami agama dengan baik. Banyak yang menduga jilbab yang dikenakannya saat ini karena dia masuk bank syariah, tentu saja anggapan ini ditepisnya.
"Sebelum saya kerja di bank saya sudah mengenakan jilbab, jadi saya mengenakan busana tertutup ini bukan hanya semata karena saya bekerja di bank syariah tapi memang sudah kewajiban seorang muslimah," tegas Astrid yang sejak tahun 2007 menjadi Pimpinan Cabang Bank DKI Syariah, Pondok Indah.
Foto: Fitryan G. Dennis/tnolDikenal sebagai wanita yang tak puas dengan yang didapatnya, membuat Astrid selalu ingin mencari pengalaman di berbagai bidang termasuk menjadi seorang penceramah dan pendidik. Bahkan yang sudah ditekuninya beberapa tahun ini adalah sebagai penulis buku. Buku pertamanya berjudul "Al-Quran, The Ultimate Secret" mendapat sambutan yang cukup baik, bahkan dia akan menerbitkan buku seri keduanya.
Bank DKI Syariah yang dipimpinnya ini merupakan ladies branch dimana pimpinan hingga karyawannya adalah wanita. Bahkan satpam pun wanita. "Cuma supir yang bukan perempuan, kalau perempuan saya juga meragukan apakah dia bisa mengganti ban kalau kempes, karena bisa-bisa saya yang ngerjain," ujarnya berseloroh.
Kenapa wanita? Astrid menjelaskan,wanita memiliki sentuhan tersendiri terutama dalam hal pelayanan. Hal lainnya, suasana kerja pastilah beda dengan bank yang non ladies. Mengingat ladies branch belum lama dicanangkan maka programnya memang belum banyak.
Foto: Fitryan G. Dennis/tnolDan, Astrid berkeinginan ada program yang benar-benar menyentuh dunia perempuan. Yang sedang dipikirkan adalah pembuatan kartu kredit khusus bagi wanita, tapi yang arahnya tidak konsumtif namun mengarahkan pada kegiatan yang produktif.
Bicara soal perbankan, Astrid sempat menyinggung masalah perbankan di Indonesia yang tidak dibatasi atau dikotakan, padahal dunia perbankan telah membuat kriteria khusus bagi sebuah bank, "Andai saja bank nasional yang sudah memiliki asset besar dibedakan pangsa pasarnya dengan bank perkreditan rakyat, pastinya tak akan terjadi perebutan nasabah dan penguasaan wilayah," ujar Astrid geram. Astrid sangat berharap agar pemerintah maupun pihak yang berwenang bisa mengatasi hal ini.