
Foto: Yesi/tnolBICARA tentang Yessy Gusman di era tahun delapan puluhan, pastinya tak bisa dipisahkan dari Rano Karno. Betapa tidak, pasangan remaja ini telah menjadi ikon bintang film remaja di era 80-an. Dimana ada Yessy , disitu ada Rano.
Lantas,bagaimana hubungan mereka di luar dunia akting? Banyak yang menduga bahkan berharap saat itu agar kedua insan remaja ini menjadi pasangan kekasih yang sesungguhnya. Sayangnya, itu hanya harapan karena kenyataannya antara keduanya tak pernah terjalin hubungan cinta. Geregetan juga sih!
Yasmine Yuliantina Yessy Gusman yang akrab dengan sapaan Yessy Gusman ini menjadi pasangan cinta dalam layar lebar sejak keduanya bermain dalam Film Romi dan Yuli. Sejak itu peran Yessy hamper diakatan seratus persen protagonis. Rasanya terlalu naïf untuk menjadikan wanita bermata indah dan terkesan manja ini diberikan peran antagonis.
Terdampar di dunia seni peran hanya kebetulan dan keisengannya saat menjadi figuran di film Rio Sang Juara bersama teman-temannya dari Sanggar Kak Yan. Tak dinyana, di sana ada Rano Karno yang sudah terkenal dulu menjadi artis.
Foto: IstimewaPertama melihat Yessy, Rano seperti merasa 'srek' dan langsung menunjuk Yessy untuk menjadi peran utama bersama Rano. Kaget? Ya jelaslah, tapi ternyata mengasah akting Yessy tak sulit, buktinya dia bisa bermain dengan baik di film ini.
Rasa tak percaya acap muncul dalam dirinya ketika dia berhasil menjadi pemeran utama dalam film itu. Betapa tidak, wanita kelahiran 21 Juli 1962 ini sangat pemalu. Dan, untuk menghilangkan sifat malunya itu, dia harus berjuang. Untung sang mama rela melepaskan pekerjaannya demi mengawasi Yessy yang mulai sibuk dengan jadwal syuting dan pemotretan.
Sukses di Karier, Gagal di Rumahtangga
Foto: IstimewaLayaknya bintang ternama dan terkenal kala itu, sosok Yessy selalu dirindukan penggemarnya dimana pun dan kapanpun. Kala itu namanya selalu disandingkan dengan Lidya Kandao, Meriam Bellina, Maya Rumantir, Herman Felani, Rico Tampaty, dan tentunya Rano Karno.
Namun nama Yessy Gusman dan Rano Karno nyaris sulir terpisahkan terlebih setelah keduanya sukses memerankan Film Gita Cinta Dari SMA yang dilanjuti dengan sekuelnya Puspa Indah di Taman Hati. Rasanya sulit sekali memisahkan peran Galih dan Ratna dalam diri keduanya.
"Gita Cinta dari SMA, film yang paling berkesan dan kusuka, selain ceritanya bagus, filmnya jug sukses di pasaran," ujar Yessy berbinar-binar saat ditemui TNOL di kediamannya di Duren Tiga, Jakarta. Namun bukan berarti film seperti Buah Terlarang, Selamat Tinggal Duka, Usia 18, dan sebagainya tak member kesan. Semua yang peran yang dimainkan pastinya meninggalkan kesan tersendiri.
Foto: IstimewaWanita berdarah China-Jerman yang terlahir sebagai anak kedua dari 4 bersaudara ini sempat menjadi nominasi aktris terbaik di ajang Festival Film Indonesia tahun 1981 untuk Film Usia 18 garapan Teguh Karya.
Selanjutnya, nama Yessy pun menghilang dari dunia perfileman bersamaan dengan kepergiannya ke Amerika Serikat, melanjutkan pendidikan di University of San Fransisco. Di negeri Paman Sam ini, Yessy menemukan jodohnya yakni Ocky Tjakra.
Namun, rumahtangga itu hanya dipertahankan 17 tahun, setelah itu mereka bercerai. Yessy kembali ke tanah air membawa serta dua anaknya. Selang dua tahun dia kembali berjodoh dengan Syanruddin bin Hasan Batong, pengusaha asal Kalimantan Timur. Rumahtangga ini pun berakhir dengan perceraian di tahun 2007.
Untuk Anak, Untuk Pendidikan
Foto: IstimewaGemerlapnya dunia hiburan memang telah ia tinggalkan. Namun, nama Yessy tak tenggelam begitu saja. Buktinya, nama Yessy tetap naik ke permukaan. Bukan di panggung hiburan, tapi di panggung pendidikan.
Sebuah dunia yang menurut Yessy memang diimpikannya sejak kecil. Kebetulan dia suka membaca dan menulis, maka dunia pustaka menjadi incarannya. Bukan lading komersil, Yessy lebih banyak bergelut di bidang sosial. Untuk itulah dia mendirikan Yayasan Bunda Yessy. Ia pun mendirikan Taman Bacaan Anak.
"Waktu saya balik ke Indonesia, tahun 1999 sedang terjadi krisis moneter, saya melihat kayaknya anak-anak mengalami hambatan dalam proses belajar mengajar karena harga buku mahal, makanya saya mencoba membantu mengatasinya," ujar Yessy yang telah menulis buku berjudul Menyemai Kasih Sebuah Perjalanan Yessy Gusman.
Foto: IstimewaAktivitas Yessy tak terhenti hingga disitu sebagai dosen Performance of Dramatic Literature, Profesional Studies di London School, Jakarta, ia juga aktif sebagai sekretaris Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal RI. Untuk kegiatan ini, ia harus menyambangi berbagai daerah di tanah air, bekerjasama dengan bupat setempat untuk mengembangkan pendidikan.
Sederet prestasi digenggamnya seperti penghargaan dari Penerbit Mizan dan Menteri Pendidikan Nasional tahun 2003 atas kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dan pengadaan taman bacaan bagi masyarakat.
Belum lagi penghargaan dari Menpora Adhayksa Dault tahun 2005 sebagai tokoh yang mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk mengembangkan minat baca generasi muda. Selain itu penghargaan Nugrah
Jasadarma Pustaloka dari Perpustakan Nasional RI.
Lantas, tidak rindukan beradu akting di dunia seni peran lagi? Yessy senyum dan menggeleng,"Saya pernah dapat tawaran main sinetron, perannya tak sesuai dan mengandung kekerasan, saya tak suka dan saya tolak," jelas Yessy.
Meski tak bergelut di dunia seni peran, Yessy tetap memperhatikan perkembangan dunia itu dan dia tetap memberi acungan jempol buat artis muda dan perkembangan film Indonesia yang sudah membaik.