Spiritual & Psychology

Masjid Keramat Luar Batang: Kok Banyak Pengemisnya?
Written by Iskandar Bakrie/Novriyadi   
Friday, 05 March 2010 16:01
Ditopang tiang yang kokoh [Foto: Novriyadi]Ditopang tiang yang kokoh [Foto: Novriyadi]Kawasan Jakarta Utara, memang dari dahulu terkenal memiliki beragam tempat bersejarah. Dari sekian banyaknya situs bersejarah yang ada, salah satunya adalah Masjid Keramat Luar Batang yang terletak di Jalan Luar Batang V No. 1 RT 4/3 Penjaringan, Jakarta Utara.

Nama Luar Batang sebenarnya diambil dari kampung tempat berdirinya masjid, yakni kampung Luar Batang. Oleh masyarakat, masjid ini juga sering dikenal dengan sebutan Masjid Keramat Luar Batang, karena ada makam di dalam masjid yang dianggap memberi berkah bagi para peziarah yang berdoa di sana.

Foto: NovriyadiFoto: NovriyadiMenurut Faisalsyam wakil ketua pengurus masjid, pendiri masjid ini bernama Habib Husein bin Abu Bakar Al Idrus yang datang dari Yaman Selatan ke bumi Batavia pada tahun 1739 M. Dalam menyebarkan agama Islam, Husein bin Abu Bakar Al Idrus tidaklah sendiri, beliau ditemani oleh murid kesayangannya yang keturunan Tionghoa bernama H. Abdul Kadir.

Dua tokoh ini, memang dikenal sebagai penyebar agama Islam di daerah Luar Batang. Para pendakwah ini menganggap daerah Luar Batang merupakan tempat strategis bagi syiar Islam, karena berdekatan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai tepat bertemunya para saudagar dari belahan dunia. Nah, karena alasan strategis itulah Habib Husein bin Abu Bakar Al Idrus mendirikan masjid di kampung Luar Batang.

Tempat wudhu nan teduh [Foto: Novriyadi]Tempat wudhu nan teduh [Foto: Novriyadi]Faisal bercerita, bertemunya antara Habib Husein bin Abu Bakar Al Idrus dengan muridnya sangat unik, pada suatu hari Habib dikagetkan dengan kedatangan tamu keturunan Tionghoa yang berpakaian basah kehujanan. Orang tersebut meminta bantuan kepada Habib untuk berlindung dari kejaran VOC. Tak lama kemudian datanglah VOC, karena tahu buronan mengumpat di rumah Habib, VOC pun meminta Habib untuk segera meyerahkan buronan. Bukannya menyerahkan Habib pun berkata "Aku melindungi tawanan ini dan akulah sebagai jaminannya". Mendengar ucapan tersebut, VOC menjadi takut dan mengurungkan niatnya untuk menangkap si buronan. Sejak itulah orang Tionghoa tersebut masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Abdul Kadir.

Pintu masuk [Foto: Novriyadi]Pintu masuk [Foto: Novriyadi]Masjid ini sendiri memiliki luas sekitar 2 ha. Di dalam kompleks masjid, setidaknya ada 3 bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda satu gedung sebagai tempat yayasan, satu gedung di sebelah barat ada kantor sekretariat, dan satu gedung lagi sebagai tempat beribadah.

Sebelum memasuki ruangan beribadah, di sebelah kiri ada sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para peziarah. Di ruangan itulah Habib Husein bin Abu Bakar Al Idrus dan H. Abdul Kadir (murid mualafnya) dimakamkan. Jika kita perhatikan, dua makam tersebut sangatlah berbeda dengan makam-makam pada umumnya. Bayangkan, ukurannya sangat besar lalu di sekelilingnya ditutupi tirai berwarna hijau, serta di atasnya ada ukiran kaligrafi arab.

Foto: NovriyadiFoto: NovriyadiSelesai melewati ruang makam, barulah ruangan beribadah yang ditunjang kokoh dengan 12 tiang beton sebagai penopang kubah berbentuk joglo Di dalam ruangan beribadah ini, juga dipenuhi kaligrafi yang ditulis di sudut-sudut ruangan. Dan, untuk mempercantik masjid ini di bangun menara setinggi 57 meter yang letaknya di sebelah kanan ruangan beribadah.

Masjid ini sendiri tiap harinya selalu didatangi oleh peziarah yang tertarik pada sang Habib Husein bin Abu Bakar Al Idrus yang keturunan Nabi Muhammad SAW. Namun sayang, indahnya masjid ini sedikit memudar saat ditemukan banyaknya pengemis dan pedagang asongan yang memadati sekitar masjid.