Gini aja gak becusss! Mau langsung di-SP3-in, hah...?! Guobbblok...! [Foto: Istimewa]"Say what you mean, and mean what you say!" Kurang lebih artinya begini: Berkatalah sesuai dengan niatmu, dan berniatlah seperti apa yang kau katakan.
Kejujuran yang paling hakiki adalah kejujuran pada diri sendiri. Kita tidak mungkin berlaku jujur pada orang lain, sebelum kita jujur pada diri sendiri. Pribahasa di atas walau sangat sederhana tapi cukup jelas dan nyata. Orang bisa mengukur kejujuran dirinya dengan mencoba mengevaluasi seberapa konsistenkah ia dalam berniat dan bertindak. Apakah ia selalu berniat dan bertindak dalam satu garis yang sama?
Aku bilang keluaaaarrrrr! [Foto: Istimewa]Sebaliknya, apakah ia sering 'terpaksa' berbuat abu-abu, dalam niat putihnya? Atau, sesering apakah ia berkata putih untuk niat abu-abunya?
Kita sering tidak mampu mewujudkan niat putih, karena adanya ketidak-mampuan. Dengan dalih kita harus akomodatif, fleksibel, dan berbagai dalih sifat bijak yang lain—kita sering sengaja mengkompromikan putih menjadi abu-abu menyamarkan kelemahan dan niat yang 'limbung' menjadi hitam; sekaligus, agar kita tidak dianggap sok dengan niat putih ideal yang seharusnya digapai. Yang pada akhirnya kita pun akan sering harus berkata putih untuk niat yang abu-abu, setelah terlanjur dengan ketidak-mampuan itu.
Untuk menghilangkan warna abu-abu itu, kita diharapkan memiliki integritas pribadi yang tangguh. Kita diharapkan bisa berpikir, bersikap, berkata dan bertindak jujur, baik, dan benar.
Pergi sono luh! [Foto: Istimewa]Kita juga perlu bersikap dan berprilaku yang bisa dipercayai dan mempercayai perusahaan, pimpinan, rekan kerja, dan bawahan. Salah satu contohnya adalah tidak menceritakan hal yang menjadi rahasia perusahaan kepada pihak lain yang tidak berhak, apalagi kompetitor. Termasuk dalam contoh ini adalah: selalu bersikap positif terhadap kebijakan perusahaan dengan cara lebih mencoba memberikan sumbang-saran perbaikan kelemahan kebijakan, dari pada memanfaatkan kelemahan itu untuk kepentingan diri sendiri.
Intergitas pribadi dapat terpelihara jika integritas saat kita juga bisa menyampaikan sesuatu dengan cara dan untuk tujuan kebaikan bersama. Jika mengetahui atasan, rekan sekerja, atau bawahan ada gejala melakukan perbuatan negatif, sebaiknya kita mengingatkan dengan cara yang bijaksana dan mengajaknya untuk sadar kembali. Atau, kita bisa memberitahukan hal ini kepada atasan dengan cara dan tujuan yang terpuji. Bukan dengan cara surat kaleng atau menjadikan pembicaraan umum atau gosip dan rumor, apalagi untuk menjatuhkan teman dan menonjolkan diri.
Bos galak, ah, bikin gue senewen aja nih...! [Foto: Istimewa]Begitu pula seorang pimpinan perusahaan jika hendak memberitahukan kesalahan anak buahnya tidak perlu harus memaki-maki di depan orang banyak, cukup dipanggil ke ruang kerjanya dan bicarakanlah dengan sebaik-baiknya. Gaya manajemen yang sering memaki anak buah dengan bahasa tidak sepantasnya bisa jadi itu bagian dari gaya kepemimpinan masa lalu. Bahkan, hal ini semakin menunjukkan "siapa sebenarnya Anda" yang kini jadi pemimpin sejumlah anak buahnya. Sebab, bisa jadi, gaya 'barbarian' model pemimpin seperti ini cuma pandai dan menyelamatkan 'kekuasaannya' saja. Makanya, dengan cara menggertak-gertak dan memaki anak buah adalah pedoman utama di dalam manajemen yang dipimpinnya.
Memata-matai dan mencurigai... gaya lama. [Foto: Istimewa]Sementara itu, seorang pemimpin muda berbakat masa kini, selalu menampilkan komunikasinya yang terbaik, semangat dan selalu memberi motivasi bawahan, setiap kalimat dicetuskan berdasarkan fakta tanpa ada upaya memelintir satu kata pun. Artinya, setiap kata yang diungkapkan telah dikonsep terlebih dahulu dengan tujuan rapat tidak lari terombang-ambing ke mana-mana. Inilah kalimat dengan niat dan diungkapkan dengan kejujuran apa adanya. Toh, apa yang Anda katakan bisa terdeteksi oleh bawahan bahwa apakah Anda tengah berupaya 'mengagungkan' diri Anda atau sebaliknya Anda sedang memberikan dan membeberkan rencana strategis perusahaan untuk menggapai keuntungan maksimal dengan segala misi dan visi perusahaan tentunya. Dan, tentu saja menghindari memaki-maki bawahan dengan perkataan yang kurang pantas bagi siapapun yang mendengarnya. Apalagi Anda adalah orang yang terdidik dan terpelajar.