Dari pintu ke pintu [Foto: Firmansyah]Dari pintu ke pintu [Foto: Firmansyah]Kesenian Lengger berasal dari kata "Le" panggilan untuk anak laki-laki dan "ger" membuat geger atau ramai. Karena, memang awalnya tarian lengger dibawakan oleh seorang anak laki-laki yang dirias seperti wanita.

Tarian tradisional asal pulau Jawa ini makin banyak mengalami metamorfosa dan sedikit menyimpang dari tujuannya yaitu, memberikan hiburan bagi masyarakat sekaligus melestarikan budayakan seni tari tradisional.

Contohnya, beberapa seniman Lengger yang biasa mangkal di Pasar Mangunharjo di Probolinggo, Jawa Timur, yang terpaksa harus berurusan dengan pihak Satpol PP karena disinyalir menjadikan lokasi tersebut ajang mabuk-mabukan sekaligus media prostitusi.

Foto:  FirmansyahFoto: FirmansyahItu di Probolinggo, kalau di Jakarta, kita kerap menjumpai para pengamen jalanan yang dengan perempuan dan laki-laki, berdandan layaknya sinden menari lenggak-lenggok dengan di sertai musik dari tape 'gendong', contoh simpelnya, bisa kita lihat dalam video klip D'Masiv dengan lagunya-lagunya yang bertitel 'Jangan Menyerah'.

Foto: FirmansyahNamun, perjalanan hidup Siti, Nonong, Harti dan Joko, pengamen Lengger asal Purwokerto, Banyumas ini, nampaknya jauh berbeda dengan jalan cerita dalam video klip tersebut di mana di akhir cerita para seniman Lengger tersebut menjadi sukses berhasil memutar 180 derajat tingkat perekonomian mereka.

"Mas, ikut sawer dong buat kita, tadi kan udah di tanya-tanya, lumayan buat nambah-nambah 'sangu' makan siang," ujar Joko kepada TNOL ketika dimintai sedikit komentar tentang kegiatan seninya tersebut.

FirmansyahBaginya, jika ingin hidup di Jakarta, harus tahan banting dan membuang jauh-jauh rasa malu demi mendapatkan rupiah. "Kasihani kita, Mas, banyak orang di Jakarta yang gak suka cara kita ngamen seperti ini, maka dari itu tiga teman kami gak tahan tinggal di Jakarta, akhirnya pulang lagi ke desa," ungkap Harti.

Foto: FirmansyahFoto: FirmansyahSelain itu, menurut Harti, saat ini sudah banyak sekali pengamen yang berprofesi serupa sehingga membuat dia dan kawan-kawannya berlomba-lomba mengambil resiko menjelajahi setiap sudut di Ibukota Jakarta.

"Kita ini cuma lulusan SD tapi pernah kursus di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) Banyumas, tapi cuma empat bulan, soalnya gak ada biaya untuk nerusin sekolah. Jadi kemampuan saya cuma ini," terang Joko seraya menambahkan lagu-lagu pengiringnya dangdut, campur sari dan jaipongan.