Negeri ini kaya raya, tapi masih ada sekolahan anak bangsa yang darurat. [Foto: Novriyadi]Negeri ini kaya raya, tapi masih ada sekolahan anak bangsa yang darurat. [Foto: Novriyadi]Waktu TNOL pertama kali datang melihat suasana sekolahan darurat ini, kesannya cukup menyedihkan sekali. Masa republik sehebat ini, yang katanya negara besar dengan sumber daya alamnya yang juga besar (seperti yang sering didegungkan oleh para politisi tengik dan 'orang besar' kepala), masa masih ada sekolahan darurat, sih...? Mentang-mentang yang sekolah anak orang melarat, terus sekolahannya cukup dibuatkan yang serba darurat...? Kebangetan!

Negeri ini memang negeri penuh ironi. Di lain tempat sebagian orang berkuasa dan berpesta pora dengan uang hasil korupsi sementara di sudut-sudut kota, anak-anak masa depan bangsa malah kesulitan mau menikmati pendidikan yang selayaknya. Terkutuklah mereka yang biasa menyelewengkan uang rakyat, dana-dana pendidikan anak bangsa, dan bentuk-bentuk korupsi lainnya.

Untung ada relawan yang baik hati. [Foto: Novriyadi]Untung ada relawan yang baik hati. [Foto: Novriyadi]Di satu sudut, TNOL mengamati seorang anak gadis yang tengah membaca buku. Apakah dia salah satu murid sekolah darurat ini? Kalau ya, kenapa nggak pakai seragam? Selidik punya selidik ternyata benar¸ gadis kecil bernama Siti Amalia itu murid sekolahnya.

Nama sekolahannya sih, cukup keren, "Sekolah Darurat Ibu Kartini". Tapi, kalau Ibu RA. Kartini yang kesohor itu bisa bangkit dari kubur dan melihat keadaan sekolah itu, pastilah marah, apalagi namanya disandingkan dengan nama "Darurat". "Kalau di zamanku bisa jadi begitu, tapi ini'kan Zaman modern...!?" begitulah kira-kira RA Kartini menggerutui model sekolahan ini.

Waktu ditanya pekerjaan orangtuanya, Siti Amalia berusia 9 tahun ini menjawab bahwa ayahnya pembuat peti kayu.

Siti Amalia murid yang rajin. [Foto: Novriyadi]Siti Amalia murid yang rajin. [Foto: Novriyadi]Lia anak ke berapa ?
Dua dari empat bersaudara

Lia kelas berapa, jenjang pendidikan di sekolah ini sampai mana?
Saya kelas tiga, di sini ada TK, SD, SMP, dan SMU.

Siapa yang menyuruh sekolah di Sekolah Darurat Ibu Kartini, dan kenapa sekolah di sini?
Yang menyuruh orangtua, katanya sekolah di sini gratis terus dekat dengan rumah selain itu bisa makan siang gratis.

Emang di sini dapet makan gratis ?
Iya, setiap istirahat dapat makan gratis, masaknya di dapur umum dekat dengan sekolah lauknya kadang-kadang ikan, telur, tempe atau sayur-sayuran. Kalau murid TK dapet susu.

Selain makanan dapat apa lagi?
Dapat buku tulis satu pak untuk satu minggu, terus bolpoin, dan seragam.

Pelajaran yang diajarkan di sini apa aja?
Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan Matematika. Saya suka sama pelajaran matematika karena saya suka berhitung.

Senang nggak belajar di sini?
Senang, karena temannya banyak terus gurunya baik-baik. Tetapi kalau gurunya tidak masuk kita tidak belajar. Nah, kalau tidak belajar kadang-kadang kita suka nyapu atau bersih-bersih.

Foto: NovriyadiIbu kembar (Rian&Rossi) baik tidak?
Baik banget, kalau nyuruh ngomongnya lembut, orangnya nggak galak. Tetapi kalau ada anak yang bolos sekolah atau nakal dihukum. Hukumannya disuruh mencari kayu untuk bahan bakar buat masak.

Apa cita-cita Lia?
Menjadi dokter, karena bisa menolong orang sakit.

Bisa konsentrasi nggak belajar di sini?
Kadang-kadang sulit, karena berisik muridnya banyak sekitar seratusan anak. Selain itu suara kereta sangat mengganggu. Lalu kalau hujan airnya suka masuk.

Berapa Jam belajarnya?
Jam 7 sampai jam 1 siang

Selain belajar kegiatan Lia apa?
Setiap hari saya membantu Ayah mencari paku di tempat pembuangan puing-puing bangunan di dekat rumah. Paku-pakunya kalau sudah banyak bisa dijual atau dipakai sama Ayah untuk membuat kotak peti kayu.

Jumlah buku sumbangan ratusan jumlahnya [Foto: Novriyadi]Jumlah buku sumbangan ratusan jumlahnya [Foto: Novriyadi]Kalau bermain sama teman-teman kapan?
Biasanya saya bermain setelah membantu ayah mencari paku

Wawancara dengan Husein (38) (orangtua Lia)
Senang tidak dengan adanya Sekolah Darurat Kartini?
Saya sangat senang dengan adanya Sekolah Darurat Kartini. Karena Sangat membantu, karena selain gratis juga dapat buku dan makan gratis. Saya ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada ibu Rian dan Rossi yang telah membantu kami orang-orang yang tidak mampu.

Sebagai seorang pembuat kotak kayu dalam sebulan dapat penghasilan berapa?
Penghasilan tidak menentu.

cita-cita mau jadi dokter biar bisa menolong orang [Foto: Novriyadi]cita-cita mau jadi dokter biar bisa menolong orang [Foto: Novriyadi]Deskripsi gedung Sekolah
Sekolah Darurat Kartini berlokasi di pinggir rel kereta Lodan, Ancol, Jakarta Utara. Ruangannya beratapkan terpal dengan dinding semi permanent sebatas dada orang dewasa. Di bangunan tersebut, sama sekali tidak ada pintu dan jendela, otomatis ketika hujan air tempias masuk ke dalam.

Panjang bangunan sekitar 50 M dan luasnya sekitar 6 M. Persis di sebelah pojok kanan ada rak buku yang berisi ratusan buku hasil dari sumbangan-sumbangan. Di belakang bangunan ada ruangan dapur umum yang berukuran 4x4 Meter.