
Jalur Rel Stasiun Tanjung Priok/ Foto: NovriyadiSETELAH sempat tertidur selama puluhan tahun, 13 April 2009 lalu, PT Kereta Api Indonesia resmi membuka kembali jalur stasiun Tanjung Priok. Dengan tiga kereta perdananya tujuan Pasar Turi-Tanjung Priok, Purwakarta-Tanjung Priok dan Cikarang. Sayangnya, baru saja 'bergerak', penjarahan rel pun terjadi. Halah...
Stasiun terbesar se-Asia Tenggara yang merupakan warisan peninggalan pemerintah kolonial Belanda di zaman penjajahan tersebut kini mulai di pugar kembali dengan maksud menjadikannya sebagai pusat studi sejarah dan cagar budaya.
Ternyata, menjaga keaslian bangunan dan fasilitas yang masih tertinggal, banyak menuai resiko pahit yang harus diterima oleh para pemangku kepentingan. Salah satunya dikarenakan bangunan dan semua fasilitas yang ada sudah 'ditunggangi' warga sejak puluhan tahun lamanya.
Masih dipenuhi rumah liar dan 'sarang' pelacur/ Foto: NovriyadiPela-pela, begitulah warga sekitar menyebut stasiun yang dahulunya berubah fungsi menjadi kawasan prostitusi terbesar di wilayah Utara Jakarta tersebut. Mengapa? karena, desain lantai dua bangunan tak bertuan tersebut seperti asrama megah yang tinggal di buatkan bilik-bilik kecil untuk keperluan rumah liar dan operasional para pelacur.
Namun, sejak adanya komitmen dari pemerintah pada akhir 2008 lalu untuk melestarikan stasiun yang dibangun tahun 1914 ini, perlahan-lahan keberadaan para pelacur dan tunawisma mulai di relokasi atau lebih tepatnya di 'geser' tidak jauh dari stasiun.
Alhasil, di bantaran pinggir rel kereta masih banyak dijumpai pemukiman-pemukiman liar serta warung-warung tenda yang masih aktif ketika mulai memasuki waktu senja dan malam hari dimana tidak ada lagi keberangkatan maupun kedatangan kereta api.
Peron penumpang menunggu kereta "Namanya juga mereka (pelacur dan tunawisma) pernah menempati bangunan ini selama puluhan tahun, jadi hal-hal yang berbau tindakan perlawanan sudah menjadi pengalaman tersendiri dalam mengelola stasiun ini," ujar Sumardjo, pelaksana harian stasiun Tanjung Priok kepada TNOL.
'Dua hari yang lalu, saya sempat kebingungan, rel kereta yang ada sekitar 1 kilometer keluar dari stasiun sudah hilang dijarah orang, tidak tanggung-tanggung, mereka memotong habis di kedua sisinya. Panjangnya sekitar 30 meter," ungkap Sumardjo seraya menambahkan, lajur langsung menuju Stasiun Senen tersebut memang belum aktif karena belum diresmikan akibat belum tersedia sarana Kereta Api.
Menurutnya, aksi penjarahan massal seperti itu hanya membuat pihaknya mengelus dada. Karena peristiwanya berada di luar stasiun dan di kelilingi kawasan pemukiman yang masih tergolong rawan kriminalitas dan belum tersentuh pihak aparat.
"Sebenarnya kawasan itu masih milik PT Kereta Api, namun sayangnya sekarang menjadi kawasan kumuh yang padat penduduk. Kita juga bingung perlakuan seperti apa yang bisa menertibkan mereka, di satu sisi mereka sudah bertahun-tahun nyaman tinggal disini. Saya hanya bertanya-tanya, sampai kapan stasiun ini benar-benar murni menjadi cagar budaya yang patut dan bisa dilestarikan," ujar Sumardjo berharap.