Foto: Safari SidakatonDi kantor stres karena rutinitas pekerjaan. Pulang ke rumah mau istirahat dengan tenang dan nyaman, eeh...malah diganggu sama tikus yang bikin resah. Pulang ke rumah bukannya rileks, malah jadi beringas gara-gara tikus sialan itu.
Tapi Anda tidak usah khawatir kalau mau ikutin sarannya Nano. Dia punya pengalaman yang sama dengan Anda tapi sekarang dia tidak pernah stres lagi. Apa kiatnya Nano. Tak mahal, kok, cuma modalin senapan terus mulai deh seperti koboi kebakarang jenggot, dor..dor..dor....sikat semua tikus-tikus yang ngacak-ngacak lemari, dapur, hingga bumbu-bumbuan!
Bagi Nano, stresnya merasa hilang hilang setelah ia menekuni hobi menembak. Tapi jangan salah, menembak di sini bukan menggunakan peluru tajam tapi menembak dengan peluru mimis alias senapan angin yang berkaliber 4.5 mm sehingga tidak perlu izin dari pihak berwajib.
"Menembak dengan senapan angin bisa menghilangkan stres. Pokoknya buat hiburan bagi orang - orang yang mengalami stres," kata Nano, penjual dan service senapan angin di Pasar Pal, Depok, kepada TNOL belum lama ini.
Nano cuma berani jual tipe senapan angin. [Foto: Safari Sidakaton]Menghilangkan stres, sambung Nano yang telah menekuni penjualan senapan angin 15 tahun silam, karena ketika menembak dan bisa melumpuhkan binatang buruannya dengan tepat maka akan ada kepuasan tersendiri yang tidak terhingga. Oleh karena itu, hobi menembak juga menjadi pilihan penghobis lainnya selain memancing ikan, melukis dan fotographi.
Terkait dengan hobi menembak jenis soft gun yang saat ini juga marak, menurut Nano, komunitas soft gun tidak mempengaruhi minat menembak dengan menggunakan senapan angin. Banyak alasan mengapa senapan angin tetap eksis di tengah komunitas soft gun, di antaranya, peralatan menembak jenis soft gun harganya cukup mahal sehingga untuk kalangan tertentu tidak mampu untuk memilikinya.
Untuk bisa bermain soft gun juga harus masuk club atau komunitas yang iurannya juga tidak murah. "Kalau menembak dengan senapan angin, siapapun bisa tanpa harus masuk komunitas atau group - groupan. Selain itu ongkos menembak dengan senapan angin juga murah, harganya terjangkau," tegasnya.
Tokonya Nano di Pasar Pal Depok, akses UI. [Foto: Safari Sidakaton ]Harga untuk satu unit senapan angin hanya berkisar antara Rp 300 ribu hingga mencapai Rp 1,3 juta. Untuk mendapatkannya juga tidak sulit karena senapan angin tersebut bisa dijumpai di pasar bebas.
Selain itu, kedua hobi tersebut juga berbeda buruan. Menembak dengan menggunakan senapan angin buruannya adalah tupai, tikus, biawak, musang, codot dan binatang penganggu lainnya. Sementara menembak jenis soft gun buruannya adalah teman - temannya sendiri yang telah tergabung dalam komunitas, "Kalau menembak dengan senapan angin kan bebas dilakukan tanpa harus masuk anggota," jelasnya.
Tidak berpengaruhnya penjualan senapan angin terhadap maraknya komunitas pengguna soft gun, sambung Nano, bisa dibuktikan dengan permintaan terhadap berbagai jenis dan merk senapan angin seperti, Sharp, Canon dan Benyamin yang tetap stabil. Namun sebagai pedagang, permintaan terhadap senapan angin saat ini masih turun naik alias fluktuasi mengikuti perkembangan.
"Permintaan tetap stabil. Tapi namanya orang jualan naik turun itu biasa," paparnya.
Walaupun senapan angin bisa dimiliki siapapun tanpa melihat status, ujar Nano, tapi dalam berdagang, ia telah mengantongi izin dari pihak berwenang. Izin tersebut dikantongi agar terhindar dari hal - hal yang tidak diinginkan seperti razia yang kadang dilakukan aparat keamanan.
"Yang saya jual jenis senapan angin yang kalibernya 4,5 mili. Kalau di atas itu saya enggak dapat izin. Lagi pula resikonya berat," ujarnya.
Takut menghadapi resiko tersebut itulah yang juga membuat Nano enggan menerima order untuk merakit senjata berpeluru tajam. Walaupun di kiosnya yang berukuran 3 x 4 meter ini juga menerima perbaikan senapan angin. Ia menegaskan, di kiosnya itu hanya digunakan untuk menservice senapan angin yang rusak tidak digunakan untuk merakit senjata. "Kalau untuk merakit, biasanya itu dilakukan di pabrikan, kalau di sini kan cuma servis," selorohnya.
Foto: Safari SidakatonSebelumnya menekuni sebagai penjual senapan, Nano adalah karyawan toko senapan angin di Senen, Jakarta Pusat. Sekitar enam bulan, Nano ikut menjadi penjaga toko senapan hingga akhirnya ia memutuskan keluar untuk membuka toko sendiri. Saat itu modal awal yang dikeluarkan Nano untuk membuka toko adalah sebesar Rp 50 juta.
"Modal itu untuk kontrak kios, beli senapan dan spare part," jelasnya.
Kini, sudah 15 tahun Nano menekuni bisnis senapan angin. Dari berdagang senapan, ia pun mengaku sudah merasa cukup untuk membiayai hidup istri dan anak tunggalnya, Tino. "Alhamdulillah bisa cukup untuk membiayai hidup istri dan anak saya," ujarnya.
Senapan angin yang sudah memasyarakat di Indonesia memiliki banyak merk . Salah satu merek senapan angin yang terkenal adalah Sharp Dragon. Senapan ini cukup mudah ditemui di pasaran dengan nama Sharp Innova. Sharp Dragon dan Innova sebenarnya merupakan merek senapan angin yang diproduksi di Amerika dan Jepang sekitar dua dasawarsa. Kedua senapan ini merupakan senapan angin yang cukup dapat diperhitungkan kualitasnya.