Activities

Sejarah, Jangan Dilupain Dong!
Written by Fitryan G.Dennis/Safari Sidakaton   
Wednesday, 10 March 2010 16:03

Foto: Safari Sidakaton/tnolFoto: Safari Sidakaton/tnol

JAS MERAH pesan Soekarno, proklamator kita. Maksudnya, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Karena bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Nah, masalahnya, apa kita ini bangsa yang besar? Kalau ditilik dari jumlah penduduk dan keluasan wilayah, okelah kita ini bangsa yang besar. Tapi kalau jam pelajaran sejarah di SMA terus dikurangi demi memperbanyak pelajaran sains, apa kita masih akan tetap jadi bangsa yang besar? Nah, kalau itu, anak-cucu kita tuh yang akan mendapat jawaban konkritnya.

Pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran untuk mengembangkan siswa memahami diri dan membangkitakan nasionalisme ternyata semakin hari semakin mengalami banyak kendala. Dan kendala tersebut, di antaranya adalah sedikitnya waktu pelajaran sejarah di sekolah dan anggapan bahwa pelajaran sejarah tidak penting jika dibandingkan dengan mata pelajaran sains.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaHal ini terungkap dalam Seminar Sehari Membangun Paradigma Baru Pendidikan Sejarah Di SMA yang digelar Asosiasi Guru Sejaran Indonesia (AGSI) dan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) di Gedung Galeri Nasional Indonesia, Jakarta,baru-baru ini.

Dalam seminar yang dihadiri 100 orang ini tampak sejumlah mahasiswa, guru, dosen dan pemerhati dan peneliti sejarah Indonesia yang hadir.

Menurut Ratna Hapsari, Ketua Umum Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), banyak pihak yang mengatakan bahwa pelajaran sejarah sangat penting. Tapi dalam implementasinya pelajaran sejarah hanya diberikan waktu sedikit jika dibanding pelajaran yang lain. Pemerintah pun sebagai pemegang kebijakan pun tidak memberi waktu pelajaran sejarah lebih lama tapi hanya diberi ruang terbatas dibanding dengan mata pelajaran yang lain.

Foto: Safari Sidakaton/tnolFoto: Safari Sidakaton/tnol"Makanya kita akan memberdayakan sendiri misalnya dengan mengadakan seminar, latihan dan workshop bagaimana mengatasi kendala - kendala dalam pemahaman sejarah tersebut dibantu dengan pengembangan wahana belajar lewat LKS. Hanya itulah salah satu hal yang akan kita kembangkan pada teman – teman guru sejarah," ujar Ratna Hapsari.

Hapsari menilai, banyak hal yang menyebabkan pelajaran sejarah hanya diberi waktu sedikit, diantaranya adalah kebijakan tersebut dikeluarkan oleh masing – masing sekolah. Merubah kebijakan juga tidak mudah. Apalagi dengan alasan bahwa yang mengeluarkan kebijakan adalah atasan dari sekolah.

Padahal, sambung Hapsari, dengan mempelajari sejarah, siswa bisa memahami rasa nasionalisme. Selain itu untuk membangkitkan nasionalisme, memang bisa dikembangkan dari mata pelajaran lain tapi yang subtansi mengenai nasionalisme hanya dengan pelajaran sejarah.

Foto: IstimewaFoto: Istimewa"Jadi sayang sekali generasi masa depan tidak mengetahui sejarah Indonesia," jelasnya. Disamping itu,minimnya waktu pembelajaran pelajaran sejarah, lanjut Hapsari, karena saat ini ada upaya memiskinkan terhadap pemahaman sejarah. Ini bisa diketahui dari anggapan bahwa pelajaran sejarah dianggap tidak penting. Sehingga ada sekolah yang tidak mengajarkan pelajaran sejarah tapi lebih ke pelajaran sains.

Sementara itu menurut Asvi Warman, sejarahwan dan peneliti LIPI mengatakan, agar bisa membangkitkan nasionalisme siswa maka pelajaran sejarah harus ditambah waktunya. Selain itu, pelajaran sejarah juga seyogyanya di ujikan di Ujian Nasional, karena saat ini yang diuji nasionalkan masih sebatas pada pelajaran bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika.

Pelajaran sejarah juga merupakan salah satu sarana untuk membangkitkan nasionalisme. Oleh karena pemerintah jangan menyia–nyiakan peluang untuk membangkitkan nasionalisme melalui pelajaran sejarah dengan memberikan perhatian yang serius.

Foto: Safari Sidakaton/tnolFoto: Safari Sidakaton/tnolSementara itu menurut Teuku Ramli Zakaria, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengatakan, bahan pembelajaran sejarah harus memenuhi muatan dari kompetensi yang harus diajarkan dan dipelajari oleh peserta didik yang meliputi, pengetahuan, nilai dan kecakapan. Sejarah memuat nilai – nilai luhur yang perlu diinternalisasikan kepada siswa, antara lain menghargai jasa para pahlawan, mencintai bangsa dan negara dan semangat rela berkorban.

"Ini mengacu kepada rumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan standar kompetensi lulusan," jelasnya.