Penjahit keliling atau mereka biasa menyebut dirinya 'Permak Jeans Keliling' ini hampir kita temui di berbagai pelosok di Jakarta. Mereka umumnya mengendarai sepeda dengan membawa mesin jahit yang dilengkapi berbagai peralatan jahit. Mereka mencari pelanggan dengan cara keluar masuk kampung.
Salah satu tukang permak keliling yang berhasil ditemui TNOL yakni Riko (32) yang mengak bisa hidup dengan menjadi penjahit keliling. Makanya ia mampu bertahan dengan pekerjaanya ini selama hampir 4 tahun. Sebelumnya Rico bekerja di perusahaan konveksi, karena perusahaannya bangkrut ia pun di PHK.
B
Foto: Safarieruntung sejak remaja ia sudah bisa menjahit pakaian sehingga saat bekerja di konveksi pakaian tak jadi masalah. Begitupun ketika harus berhenti kerja dan memilih usaha menjadi penjahit keliling. Justru keahlian menjahitnya makin hari makin bertambah mengingat setiap hari banyak hal yang dia temui dari bidang usahanya ini.
Foto: SafariSaat ditemui TNOL di daerah Pal Depok, Riko sedang menambal celana yang robek di bagian paha. Bagi Riko pekerjaan itu sangat mudah, buktinya tak memakan waktu lama, celana sobek pun telah tertambal dan celana siap dipakai. Riko mengaku bisa mengerjakan permak untuk berbagai jenis pakaian dari celana, baju, jaket dan tas. Bahkan, lelaki lulusan SMP ini pun bisa mempermak busana wanita.
Pelanggan pernah kecewa? Rico menganggukkan kepalanya, "Pernah dan saya dimarahi!" Biasanya ia 'disemprot' karena ongkos mahal, jahitan tak rapi, dan warna benang tak sesuai. Rico 'menelan' semua amarah orang itu dan dijadikan sebagai pelajaran dan pengalaman berharga.
Foto: Safari"Sekarang hasilnya sudah jauh lebih baik dan secara kualitas bisa dipertanggung jawabkan," ujarnya bangga. Bahkan pelanggannya makin meningkat. Selain jahitannya rapi, harganya pun relatif murah. Bayangkan, ganti resleting dan memotong kain, ia hanya mengutip Rp. 5000, sedangkan untuk merombak atau permak total bisa mencapai Rp. 18.000. Tapi ongkos itu tidak permanen sebab ia akan mengutip jasa permak dengan melihat kondisi pelanggannya.
Diakui oleh Rico, modal awal membuka usaha ini sekitar Rp. 1,3 juta dan itu didapat dari pesangonnya saat bekerja di perusahaan konveksi. Jumlah itu ia gunakan untuk membeli sepeda, mesin jahit dan peralatan jahit lainnya seperti benang dan jarum.
Foto: SafariAwalnya, banyak kalangan yang menganggap remeh pekerjaannya. Namun karena niatnya bekerja untuk menafkahi istrinya, Endang Hidayah, dan ketiga anaknya yakni: Hanisah, Hebi, dan Pita Eliwdi maka semua itu dianggapnya angin lalu. "Bagi saya yang penting saya melakukan pekerjaan itu dengan cara halal," ujar lelaki kelahiran Pekalongan, 26 April 1975 ini.
Saat ini Riko ingin sekali memiliki kios jahit sendiri sehingga tidak perlu keliling lagi. Karena, tak mungkin selamanya menjadi penjahit keliling mengingat jarak tempuh dan waktu di jalanan yang cukup panjang.