Seks

Menelusuri Paguyuban Jasa Villa Puncak

User Rating: / 0
PoorBest 

Written by Iskandar Bakrie/Firmansyah

Tuesday, 09 March 2010

There are no translations available.

Dipilih... dipilih... dipilih...! [Foto: Istimewa]Dipilih... dipilih... dipilih...! [Foto: Istimewa]Berjaket tebal, bertopi gunung menggunakan lampu senter sepertinya sudah menjadi cirri khas di kawasan puncak Bogor, dengan menawarkan jasa villa mereka berbaris rapi di sepanjang Cipayung, Cisarua hingga Cipanas menyambut hangat siapa saja yang melintas.

Selain menawarkan villa, pondokan, hingga kamar hotel, penyedia jasa penginapan tersebut juga memiliki akses dengan menawarkan jasa layanan 'plus' bagi tamu yang menginginkan mendapatkan teman kencan di kawasan berkabut itu.

Karena rata-rata mereka juga merangkap sebagai kurir, pekerjaan multifungsi tersebut telah memiliki wadah tersendiri agar keberadaan mereka lebih diakui dan lebih aman dari kejaran aparat. Paguyuban Jasa Pengantar Villa Puncak tersebut bernama 'Puncak Panjava' yang anggotanya kurang lebih 500 orang.

kartu anggota Paguyuban panjava [Foto: Firmansyah]kartu anggota Paguyuban panjava [Foto: Firmansyah]Keberadaan mereka diakui adalah jika anggota paguyuban membawa tamu untuk menyewa sebuah penginapan maka urusan administrasi dan jasa antar-mengantar 'teman kencan' tidak berbelit-belit karena mereka umumnya memiliki akses lebih dari 60 penginapan baik villa, pondokan hingga hotel bintang 3.

"Kalau sedang mengantar tamu wanita, walaupun kita 'boncengan' bertiga dan sedang ada razia kendaraan oleh aparat, kita tinggal menunjukkan kartu anggota paguyuban langsung dikasih jalan lagi, kartu ini jadi kartu sakti," ungkap Aceng (bukan nama sebenarnya) salah seorang anggota Puncak Panjava.

Gak cocok dibalikan lagi [Foto: Istimewa]Gak cocok dibalikan lagi [Foto: Istimewa]Menurutnya, dalam waktu dekat, para anggota akan dikenakan biaya registrasi ulang sebesar Rp1,5 juta per anggota, dimana sebelumnya hanya dikenakan biaya Rp500 ribu untuk membuat kartu anggota.

"Kartu ini hanya dimiliki oleh warga asli wilayah puncak saja, karena salah satu tujuannya ingin memberdayakan warga agar mendapat penghasilan, kalau ada orang luar yang mendaftar tidak akan di izinkan," ungkapnya.

Aceng dan kawan-kawan memiliki akses untuk memasuki rumah-rumah kos para 'wanita malam' karena umumnya para wanita tersebut tidak keluyuran dijalanan layaknya penjaja prostitusi di daerah lain. Dan, ia juga sanggup menyediakan segala macam tipe wanita yang diinginkan oleh tamu bahkan tidak keberatan jika harus membawa pulang kembali wanita yang dibawanya karena ternyata tidak sesuai dengan selera sang tamu.

sampe 'puncaknya' ya, mas..!  [Foto: Istimewa]sampe 'puncaknya' ya, mas..! [Foto: Istimewa]Menurutnya, total biaya untuk kencan 'short time' serta biaya penginapan fasilitas standar harga paling minim rata-rata Rp300 ribu, darisanalah penghasilan yang biasa ia peroleh dengan mengharapkan tips seikhlasnya dari tamu, penyedia penginapan serta sang wanita.

"Keuntungan adanya paguyuban ini juga, ketika sang tamu yang kita bawa menginap di suatu penginapan dan ternyata kendaraan mereka hilang atau ada hal-hal yang tidak diinginkan, pihak paguyuban akan bertanggung jawab dan mencoba berunding dengan si tamu itu," kata Aceng.


Twitter Facebook Digg Technorati