
Sate Afrika dibakar pada bara api/ Foto: Novriyadi SELAMA INI kita tahu bahwa sate adalah makanan khas Madura. Tetapi, tahukah Anda kalau orang Afrika juga memiliki sajian makanan yang terbuat dari daging alias sate. Seperti apa ya,.. bentuknya? Kira-kira sama nggak sih dengan masakan sate khas Indonesia? penasaran, ... yuk ikuti 'perburuan' kuliner ala TNOL khusus membahas sate Afrika.
Di Jakarta, ada satu tempat yang menyediakan hidangan sate khas Afrika. Yaitu di Tanah Abang Jakarta Pusat, persis di samping Museum Batik. Sekilas tempatnya sangat sederhana, luasnya saja sekitar 3x6 meter tanpa AC bahkan jendela. Meski begitu, walau sederhana warung makan ini setiap harinya selalu dipadati oleh pengunjung.
H Ismail/ NovriyadiSesuai dengan namanya sate Afrika, tentu pemilik warung ini juga asli keturunan Afrika, namanya H. Ismail Coulubally. "Saya datang ke Indonesia tahun 1997 untuk mencari rezeki," kata pria kelahiran Mali ini memastikan.
Pria berjanggut yang beristrikan perempuan Sunda ini mengaku, awalnya berjualan sepatu di Tanah Abang. Tetapi, karena usahanya tidak membuahkan hasil, dirinya pun banting stir menjadi pengusaha kuliner. "Awalnya saya ingin makan sate Afrika, terus muter-muter Jakarta tidak menemukan tempat yang menjual sate Afrika. Akhirnya saya putuskan untuk membuka sate Afrika, karena belum ada saingannya," ujar Ismail.
Ternyata prediksinya memang tepat, bak gayung bersambut usaha kulinernya pun ramai disambangi. Semula, pengujungnya kebanyakan orang Afrika, namun seiring berjalannya waktu orang Indonesia lebih banyak yang makan. Nama Sate Afrika yang terdengar eksotik, boleh jadi mengundang rasa ingin tahu banyak orang untuk mampir ke tempat itu.
H. Ismail mengaku dirinya memang senang menjelajahi Negara lain dan Indonesia ini adalah negara yang ke 20 disinggahinya, "Saya sangat senang tinggal di sini orang-orangnya ramah-ramah dan penyabar," ungkapnya.
Di warung sate Afrika ini, kita bisa memesan dua macam pilihan yaitu sate daging dan sate jeroan. TNOL pun saat itu memesan sate daging yang menjadi menu favorit di tempat ini.Sembari menunggu hidangan datang, bisa dilihat para karyawan sangat sibuk membuat sate. Sepintas proses penyajian sate Afrika dengan sate Indonesia sangat berbeda bahkan cenderung lama.
Pertama daging dipotong-potong dalam ukuran besar lalu dibakar di atas bara sampai hampir matang. Setelah itu daging diungkep dalam panci kosong tanpa menggunakan minyak dan air, "Hal ini memang sengaja dilakukan agar minyak-minyak yang terkandung dalam daging keluar dan dagingnya tidak mengandung kolesterol," ucap H. Ismail menjelaskan sedikit rahasia hidangan satenya.
Daging dipotong kecil-kecil/ NovriyadiSetelah diungkep, daging dipotong-potong kecil-kecil dan dibakar kembali hingga matang. Belum sampai disitu, setelah dibakar irisan daging dimasukan kembali kedalam panci kecil dan di campur dengan potongan bawang bombay, garam dan penyedap rasa. Panci digoyang-goyang beberapa saat kemudian dagingnya dikeluarkan dan dibungkus dengan alumunium foil lalu dibakar kembali. Wah ternyata proses penyajian cukup lama dan lumayan ribet.
Saat hidangan tersaji, TNOL malah dikejutkan dengan adanya pisang goreng tanpa tepung sebagai pelengkap hidangan,"Di Afrika kan nggak ada nasi jadi mereka makan pisang, tetapi kalau di sini ada yang memesan nasi kita juga menyediakan" kata H. Ismail.
Sate Afrika siap disantap / NovriyadiWuihh... Alamaak, saat alumunium foil dibuka wangi daging bakar begitu terasa. Dan saat di makan mmmm.... rasa daging dombanya sangat empuk.
Rasa takjub tidak sampai disitu, saat daging dicocol dengan sambal yang disediakan, wow.. pedasnya nendang bangeets. Perasaan penasaran pun menghampiri, sebenarnya apa sih campuran yang terkandung dalam sambal tersebut? "Sambalnya campuran antara mustard dan sambal Lampung," tambah H. Ismail.
Endingnya, petualangan kuliner TNOL kali ini pun sangat luar biasa. Karena bisa mencicipi sate Afrika tanpa perlu jauh-jauh ke Afrika. Nah bagi Anda yang ingin mencoba, jam buka tempat ini dimulai dari pukul 11.00 hingga pukul 15.00 WIB.
Sate Afrika
Jalan Karel Sasuit Tubun No 6, Tanah Abang.
Harga Rp 35.000,- per porsi