About Me

No personal information shared.
inoek

inoek

wanita jatuh cinta pada apa yang dia dengar, pria jatuh cinta pada apa yang dia lihat. Itulah mengapa wanita suka dandan dan pria suka dusta.
- 12 months ago
  • Karma
  • Member since
  • Wednesday, 30 March 2011
  • Last online
  • 1 week ago
  • Profile views
  • 929 views

Latest Photos

No photos uploaded yet.

Groups

Here is a short listing of the groups that the user has registered in.

Motobebas adalah sebuah group fotografi yang ber-genre 'bebas', tidak terpaku pada satu jenis aliran fotografi ; bisa Model, Landscape, Macro, Human Interest, Art Pic/Fine Art, Wildlife, DLL. Dengan keragaman ini, sesama anggotanya bisa saling belajar dan berbagi ilmu sehingga kita dapat tumbuh berkembang bersama. Kamera-kamera yang kami gunakanpun juga bebas, mulai dari kamera HP, kamera pocket, DSLR, hingga jenis kamera manual/film. Bagi yang ingin bergabung, silakan bergabung bersama Motobebas Community :)

" />
  • Komunitas Sastra KEDAILALANG
    Selama ini kegiatan seni budaya banyak terkonsentrasi di Jakarta Pusat (Taman Ismail Marzuki, Planet Senen, Goethe Haus, Galeri Nasional) dan Jakarta Selatan (Bulungan, Teater Salihara), juga di Bentara Budaya. Kenyataan itu yang mengundang pemikiran untuk memberikan fasilitas dan wadah bagi para penggiat sastra di Jakarta Timur, agar tak harus jauh-jauh melintasi kemacetan lalu lintas kota. Saut Poltak Tambunan, novelis yang juga pensiunan pegawai negeri di Departemen Keuangan RI itu, merasa punya banyak waktu untuk mulai berbagi kepada generasi muda. Itu tentu cita-cita mulia. Sebuah saat yang tepat untuk menularkan keahlian bersastra atau setidaknya menyebar virus kegemaran membaca dan melakukan apresiasi terhadap sastra. Namun tak mungkin sanggup menjalankan itu sendirian. Lalu Saut mengajak beberapa teman yang tinggal di Jakarta Timur dan Bekasi. Lalu digandenglah saya Kurnia Effendi, Helga Worotitjan, Fitrah Anugerah, Weni Suryandari, Endah Sulwesi, Iwan "Bung Kelinci" Sulistyawan, Sahid Sadoell Freeman. Berdelapan kami menggagas bentuk wadah komunitas, format acara, dan waktu berkala pelaksanaannya. Menyusul Shinta Miranda menggantikan Sahid yang tidak aktif lagi.

    Kami percaya, energi positif akan membuat sebuah gagasan mudah ditunaikan. Dalam beberapa pertemuan, ide untuk menciptakan media ekspresi sastra dapat diterima oleh pemilik warung ayam bakar di Jl. Raya Kalimalang. Menjelang setahun berjalan kami berpindah tempat di restoran Kedai Nyonyah, kemudian sejak Januari 2011 kami mendapat tempat di Taman Kuliner Kalimalang.

    Nama Kedailalang (dalam arti bebas: kedai sastra ide Kalimalang) muncul begitu saja dan disepakati sebagai nama yang puitik dan mudah diingat. Setelah merasa cukup siap dengan alternatif pertunjukan yang hendak digelar, kami menetapkan peluncuran Kedailalang setelah liburan Lebaran tahun 2009. Kedailalang mungkin akan lahir prematur, jika membayangkan setelah pertemuan itu ada sebentang libur Lebaran. Jumlah orang yang sedikit dan kesibukan yang tak terbantahkan dari masing-masing anggota. Namun, meniru spirit Sastra Reboan, kita harus mampu mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang mungkin hanya akan menjadi alasan saja. Jadi, di tengah liburan, masing-masing "bergerak". Saut terus mencari orang-orang yang akan menjadi pengisi acara perdana. Sementara saya di kampung halaman, melalui acara Slamet Gundono di rumahnya, menyebar virus Kedailalang kepada kawan-kawan seniman Slawi dan Tegal. Energi untuk membangkitkan semangat bersastra dan berkesenian semakin menggunung.

    Demikianlah, pada Sabtu malam, 10 Oktober 2009, Kedailalang resmi dibuka. Kedailalang diharapkan akan menjadi tempat bertemunya pikiran-pikiran tajam para aktivis seni budaya dalam sebuah diskusi, workshop, dialog, pementasan, pertunjukan, dll.

    Edisi perdana Kedailalang menampilkan Paduan Suara SMA 71 asuhan Ibu Annisa Miranty Gumay. Pembacaan puisi, launching novel "Sang Juara" karya Saut Poltak Tambunan dengan pembahas Khrisna Phabicara, musikalisasi puisi bersama Teater Pintu 310, dan sajian pertunjukan teater hiperealis oleh Komunitas Taman Seni. Disusul monolog oleh Ina Kara dari Teater Koma, penampilan gitaris Niki sebagai pemusik jalanan, dan ditutup dengan pembacaan puisi oleh Diah Setiawati dari Tegal. Ia membaca puisi Tegalan dengan memesona, dengan bahasa daerah yang dikenal "kasar".

    Sekitar seratus orang pengunjung yang datang dari berbagai kawasan, termasuk dari Cibubur, Depok, dan Lebak Bulus, menunjukkan adanya antusiasme cukup besar yang tumbuh di tengah-tengah massa. Sastra memang tidak akan serta-merta mengubah cara berpikir masyarakat. Namun percayalah, dengan bersastra dan berkesenian, mudah-mudahan hati kita menjadi lebih lembut. Dengan mengenal budi pekerti melalui "rasa seni", energi yang tumbuh dalam gairah kita dapat dikendalikan dan melahirkan keindahan. Jauh dari sikap provokatif yang destruktif. Mudah-mudahan.

    Harapan ke depan, Kedailalang akan menjadi ruang untuk menyampaikan ekspresi sastra dan implementasinya seperti: musikalisasi puisi, teater, monolog, pelatihan penulisan kreatif, pemutaran film, dialog sastra, dan bahkan pameran lukisan. Kedailalang menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan ide kreatif yang mungkin dapat dikembangkan sebagai karya berkualitas. Kami akan terus menumbuhkan jiwa seni dalam situasi dan kondisi politik dan ekonomi yang mungkin carut-marut di negeri ini.

    Kenyataannya, dalam setahun lebih bergiat, kami telah memberikan aneka ragam pertunjukan dengan mengakomodasi harapan para penggiat sastra di sekitar Jakarta timur, Bekasi, dan sekitarnya. Setidaknya, setiap bulan kami menawarkan topik tematik untuk berbagi pengetahuan dan hiburan. Sejumlah tema yang pernah menjadi sajian kami antara lain: perempuan dan sastra (menghadirkan antara lain Sanie B. Kuncoro dari Solo dan Maria A. Sarjono), sastra dalam pendidikan (diskusi dengan Agen Kultur, guru, dan pengarang buku Negeri van Oranye), film dan sastra (menghadirkan Dedi Setiadi), mengenang Pram (pembicara Eka Kurniawan), gerakan perempuan (narasumber Mariana Amirudin), ekspresi cinta bersama komunitas penggemar lagu-lagui Leo Kristi, pendidikan antikorupsi (mendatangkan Danang Widoyoko Ketua ICW dan dua pakar pendidikan informal), sastra dan petualangan (pemutaran film ekspedisi Zamrud Khatulistiwa Farid Gaban dan Ahmad Yunus), sastra pembaruan (diskusi dengan Ibu Siti Fadilah Supari dan menghadirkan Deddy Mizwar), dll.

    Seperti kuatnya daya juang ilalang, rumput yang tak perlu dipelihara secara manja, di tanah tandus sekalipun mereka akan tetap berdiri tegak. Seperti itulah seharusnya para pekerja seni bekerja. Kedailalang, saya kira, hanya salah satu yang berkeinginan memberdayakan jiwa kesenibuyaan kita.




    (Kurnia Effendi, salah satu penggagas Kedailalang)


     

    " />
  • NKOTB Indonesia
  • Odong-Odong Travellers ( OOT )
  • Komunitas Peduli Lingkungan
  • Lentera Network
  • Indonesia Vegetarian Society
  • Kajian Islam