Komunitas Bicara

teror_internet@anak-anak.coy!

User Rating: / 0
PoorBest 

Written by Djoened

Monday, 15 February 2010

There are no translations available.

Foto: IstimewaFoto: Istimewa

Facebook kembali bikin “stori”.

Seorang gadis berusia 14 tahun "diculik" teman Facebook-nya. Ia sempat menghilang tiga hari, dan membuat orangtuanya kalang-kabut. Saat ditemukan polisi, dideteksi ia sudah tiga kali digagahi. Dan, pelakunya? Ya, teman Facebook-nya tadi. Halah!

Peristiwa itu dengan gamblang mengungkap: internet bisa jadi "predator" bagi anak-anak. Di Eropa atau Amerika Serikat bahkan lebih gawat lagi: anak-anak dibujuk oleh para pedofil lewat situs jejaring sosial yang sedang populer; seperti Facebook, Friendster, atau Twitter.

Pelaku kriminal memang bisa beraksi di mana saja. Namun, kejahatan di internet sudah saatnya diwaspadai. Di Indonesia, misalnya, ada sekitar 17,6 juta pengguna Facebook, dan sekitar 360 ribu diantaranya berusia di bawah 13 tahun.

Mereka, boleh jadi, kelompok yang paling potesial digombali para penjahat. Beberapa gampang saja dimintai untuk mengungkap informasi pribadi; seperti nomor ponsel atau nomor rekening dan sandi kartu ATM.

Yang ”menakjubkan”, tak sedikit pula anak-anak di bawah umur kemudian terjebak dalam pelacuran. Di Surabaya, Facebook bahkan dipakai untuk menjajakan gadis-gadis belia dengan tarif Rp 500 ribu sampai Rp 800 ribu. Alamak!

Memang, situs-situs jejaring sosial macam Facebook atau MySpace "mengharamkan" anak di bawah usia 13 tahun bergabung. Peringatan tersebut dicantumkan pada ketentuan layanan. Namun, di dunia maya, apa susahnya memanipulasi umur? Malah para orang tua sendiri yang mengajarkan urusan tipu-menipu usia tadi. Mereka kemudian dengan bangga bercerita ke sana-sini kalau anak-anaknya rajin bermain Facebook.

Betul ada banyak game menarik disuguhkan di banyak situs. Tapi, tetap saja itu bukan alasan untuk membiarkan anak-anak berselancar di ranah maya sesuka hati. Orangtua mestinya tetap berkewajiban mendampingi anak-anak, dan mengetahui dengan siapa saja mereka berteman.

Kuncinya memang ini: kedekatan. Kedekatan anak dengan orangtualah yang bisa menghindari dampak buruk internet. Memasang peranti lunak pemblokir situs porno dan memperketat penggunaan komputer saja tidak akan banyak membantu. Toh, anak-anak bisa pergi ke warnet, atau mengaksesnya lewat ponsel; apa susahnya?

Hamidan, Ketua MUI

"Yang harus ditingkatkan adalah pengetahuan orang tua mengenai jejaring-jejaring sosial yang ada sekarang ini. Karena menyangkut anak-anak, jadi pengawasannya harus lebih ditingkatkan, terutama pembinaan keagamaan di lingkungan keluarga, karena di sekolah saja tidak cukup.
"Saya kira, MUI tidak akan mengevaluasi kembali fatwa haram tentang facebook, karena facebook hanya sebagai media. Yang melanggar content-nya saja. Jadi, aparat juga harus tanggap. Kalau ada yang menggunakan untuk kegiatan maksiat, yang harus ditangkap dan ditutup adalah jaringan tersebut."

Tio Djarot, Ketua Pecinta Ontel Indonesia

"Saya sangat prihatin dengan generasi saat ini yang sering menyalahgunakan media internet untuk ajang kriminalisasi. Kemajuan teknologi sudah tidak terbendung lagi, dan dampaknya pun sangat buruk bagi masyarakat. Media massa juga berperan dalam pembentukan moral karena memiliki tanggungjawab sosial dalam memberikan informasi tentang suatu hal yang bisa menjadi bahan berbuat kriminal.
"Ini tugas berat orangtua. Jadi, orangtua jangan langsung memberi hukuman. Namun, lebih menggunakan pendekatan berdiskusi, agar setiap tingkah laku anak tentang teknologi dapat dikonsultasikan dengan keluarga."

Sulistyo, Ketua Umum PGRI

"Sebenarnya tidak baik juga kalau kita membatasi orang untuk berkembang. Namun, sayangnya, 5 sampai 10 tahun ke depan, dunia akan terbelalak dengan kegagalan dunia pendidikan, khususnya di bidang teknologi informasi.
"Pelarangan juga bukan penyelesaian. Justru harus dibangun kesiapan anak. Perangkat teknologinya ditata dengan upaya komprehensif. Misalnya, harus diatur kesepakatan jam sekolah antara pihak sekolah dan anak murid.
"Kasus seperti ini seharusnya membuat banyak pihak berintrospeksi. Bukan semata-mata bisnis tertentu, agar dampak negatifnya tidak lebih besar lagi; karena fenomena ini nantinya bisa menjadi gunung es."

Pietricia Diastuty Marchita, Model

“Sekarang anak-anak usia sekolah dasar saja ada yang buka situs begituan, selain situs game. Apalagi membukanya di warnet, sehingga orangtua susah mengawasi.

”Permasalahannya banyak orang tua yang tidak tahu dan paham internet. Kalau tahu, pasti mereka melarang anak-anak membuka situs begituan.

“Saya percaya keberadaan internet bisa meningkatkan kejahatan dan menurunkan moral. Ada yang bisa membobol bank dan membeli peralatan dengan rekening orang lain lewat internet. Ini pernah dilakukan teman saya, yang berhasil membeli kipas angin lewat internet dengan mengakali rekening orang lain.

”Anak-anak membuka internet tadinya coba-coba. Dari coba-coba jadi keterusan. Apalagi ada situs porno dan game. Anak temanku ada yang ketagihan main internet sampai tidak sekolah berhari-hari. Berangkat dari rumah memang memakai seragam, tapi ternyata tidak sampai ke sekolah, malah mampir ke warnet.

”Jadi, perlu ada proteksi dari Pemerintah, agar kemajuan perkembangan teknologi tidak berdampak buruk pada masyarakat. Tapi, jangan sampai dihapus, nanti Indonesia malah semakin ketinggalan zaman.”

Heru Wahyono, Vokalis Shaggydog

”Bermain internet bisa meningkatkan tindak kejahatan itu tergantung intelgensia si anak; apakah mereka paham atau tidak. Karena ada juga anak-anak yang hanya paham FB, tapi tidak paham metode lainnya.

”Dengan banyaknya korban penyalahgunaan internet, sebaiknya Pemerintah perlu memproteksi. Tapi, kalau ada hacker yang bisa membobol situs CIA, mereka perlu direkrut dan dipekerjakan, karena ini orang-orang pintar.

”Internet jangan dihapuslah, karena kemajuan teknologi banyak sisi positifnya. Yang perlu adalah Pemerintah melakukan proteksi dan sosialiasasi kepada orangtua. Kan komputer juga bisa diseting, agar pengguna internet tidak membuka situs-situs yang tidak berguna.”

Ary Irawan, Vokalis Goliath

”Baik-buruknya anak tergantung dari lingkungan dan keluarganya. Jadi, bukan karena pengaruh internet seorang anak bertindak kriminal; karena dampak internet juga baik untuk pengetahuan mereka.

”Untuk mengurangi penyalahgunaan internet, Pemerintah perlu membatasi dan bekerjasama dengan pengelola situs-situs. Seperti FB yang membatasi penggunanya yang berusia di atas 18 tahun.

”Pemerintah seharusnya mencari pola untuk mengurangi penyalahgunaan internet, bukan justru menghapusnya, karena itu bukan solusi. Apalagi banyak yang mencari makan di internet.

”Pola sosialiasi bisa dilakukan dengan mengandeng selebritis, karena program dari Pemerintah tidak akan sampai jika tidak mengandeng orang-orang yang menjadi idola di masyarakat.”

Mat Solar, Artis

“Adanya internet adalah salah satu dampak dari bekembangnya teknologi. Namun, jika ada orang yang menyalahgunakan internet untuk kepentingan kejahatan atau asusila, itu bukan kesalahan internet, tapi kesalahan manusianya.

“Saya tidak pernah mengawasi anak saya membuka internet. Nanti kalau saya awasi, dia bakal penasaran untuk membuka situs-situs porno. Yang penting, saya sudah kasih peringatan kalau situs tersebut tidak baik untuk dibuka.

“Seharusnya Pemerintah menghapus situs-situs porno, seperti yang dilakukan Cina. Lagian, tidak ada untungnya bagi Pemerintah Indonesia membiarkan situs-situs porno merajalela. Malah yang ada, akhlak pemuda-pemuda kita jadi rusak.”

Ronna, Anggota Sabhawana

“Sekarang kita tidak bisa lagi membatasi anak untuk mengakses internet, karena internet sudah menjadi mata pelajaran di SD. Intinya, internet saat ini sudah jadi kebutuhan hidup.

“Perihal banyaknya penyalahgunaan internet dikalangan anak-anak, itu menjadi tanggungjawab orangtua. Seharusnya orangtua bisa memberikan pemahaman mengenai situs-situs mana saja yang boleh dibuka dan yang tidak.

“Yang membuat anak-anak zaman sekarang begitu keranjingan internet, karena internet sangat mudah diakses. Selain itu, internet sudah menjadi trend di kalangan anak-anak.

“Seharusnya Pemerintah bekerjasama dengan pihak sekolah membuat penyuluhan-penyuluhan mengenai bagaimana mengakses internet secara aman.”

tikatikaTika Bisono, Psikiater

“Orangtua seharusnya belajar juga tentang internet, sehingga mereka dapat mengawasi anak-anak dengan mudah. Kalau perlu, si anak dan orangtua datang ke warnet dan belajar internet bersama.

“Mengawasi anak-anak mengakses internet harus dilakukan orangtua secara arif, karena saat ini internet tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Jangan sampai orangtua melarang sama sekali. Nanti anak malah kuper.

“Tujuan adanya internet untuk memudahkan kita mencari informasi. Justru yang harus kita salahkan adalah si pengguna internet, karena tidak dewasa berpikir. Mereka sering mengakses situs-situs yang tidak baik.”

Laporan: Firman, Safari, Novri, Yessi


Twitter Facebook Digg Technorati